Jumat, 06 April 2012

WPPSI

 PROSEDUR PEMBERIAN TES :
1. DALAM PEMERIKSAAN PSIKOLOGIS IKUTILAH PROSEDUR MANUAL DENGAN SEKSAMA.
2. TES DIBERIKAN OLEH PEMERIKSA/TESTER YANG BAIK.
3. HASIL YANG BAIK SANGAT DIPENGARUHI OLEH PENGUASAAN PEMERIKSA.
4. DEVIASAI DAN INSTRUKSI DAPAT MENGAHASILKAN ADANYA KESALAHAN DALAM PENGGOLONGAN.
5. JANGAN SEKALI-KALI MENGINTERUPSI ANAK DALAM SITUASI TES.
6. PELAKSANAAN TES INI MEMERLUKAN WAKTU ANTARA 50-70 MENIT.
7. BILA ANAK TERLIHAT LELAH, HENTIKAN PEMBERIAN TES DAN JANJIKAN PADANYA BAHWA TES AKAN DILANJUTKAN DILAIN HARI, TERUTAMA BILA ANAK YANG DITES ADALAH ANAK HANDICAPPED ATAU DISTURBED CHILD. TES DAPAT DIHENTIKAN WALAU SALAH SATU TES YANG TENGAH DIBERIKAN (BERJALAN) ATAU BELUM SELESAI DIBERIKAN.
8. PADA DASARNYA TES WPPSI HARUS SELESAI DIBERIKAN, WALAUPUN BERKALI-KALI DITUNDA (HAL INI DAPAT DIMAKSUDKAN PADA PENILAIAN KUALITATIF) NAMUN HAL INI DAPAT BERLAKU APABILA ADA BEBERAPA SUB TES YANG TIDAK BIAS DIBERIKAN KARENA ADANYA HAMBATAN DALAM BAHASA.
9. BUATLAH SITUASI DAN LINGKUNGAN YANG FAMILIAR BAGI ANAK SEBELUM PEMBERIAN TES DIMULAI, MISALNYA ANAK DIAJAK MELIHAT GAMBAR ATAU SEPERTI DISURUH MENGGAMBAR.
10. BUATLAH RAPPORT YANG BAIK DENGAN ANAK EBELUMM PEMBERIAN TES KARENA TES HARUS DILAKSANAKAN DALAM SITUASI YANG HANGAT DAN SANTAI SEHINGGA ANAK MENYUKAI APA YANG IA LAKUKAN BERILAH DUKUNGAN PADA ANAK AGAR IA MENGERJAKAN SEBAIK MUNGKIN TETAPI JANGAN MEMBERI TAHU ANAK DAN JANGAN PULA BERSIKAP TERLALU KAKU.

CITRA ORANG MADURA MASA KINI

A. PENDAHULUAN
Dr. A. Latief Wiyata menyatakan bahwa budaya Madura sesungguhnya memang sarat dengan nilai-nilai sosial budaya yang positif. Hanya saja kemudian nilai-nilai positif tersebut tertutupi perilaku negatif sebagian orang Madura sendiri, sehingga muncul stereotip tentang orang Madura, dan lahir citra yang tidak menguntungkan. Lebih daripada itu, pandangan mereka terhadap masyarakat dan kebudayaan Madura selalu cenderung negatif.
Nilai-nilai sosial sebuah budaya, menurut Latif Wiyata bersifat lokal dan kontekstual sesuai dengan kondisi dan karakteristik masyarakat pendukungnya. Sejalan dengan ini, seharusnya Budaya Madura mencerminkan karakteristik masyarakat yang religius, yang berkeadaban dan sederetan watak positip lainnya. Akan tetapi keluhuran nilai budaya tersebut pada sebagian Orang Madura tidak mengejawantah karena muncul sikap-sikap yang oleh orang lain dirasa tidak menyenangkan, seperti sikap serba sangar, mudah menggunakan senjata dalam menyelesaikan masalah, pendendam dan tidak mudah menyesuaikan diri dengan lingkungan (Giring, 2004). Akibatnya, timbul citra negatif tentang orang Madura dan budayanya.
Orang yang tidak pernah ke Madura, memiliki gambaran yang kelam tentang Orang Madura. Rata-rata pejabat yang dipindah tugas ke Madura, berangkat dengan diliputi penuh rasa was-was, karena benak mereka dihantui citra
Orang Madura yang serba tidak bersahabat. Akan tetapi kemudian setelah berada di Madura, ternyata hampir semuanya berubah 180 derajat pandangannya tentang Orang Madura. Mereka dengan penuh ketulusan mengatakan bahwa Orang Madura ternyata santun, ramah, akrab dan hangat menerima tamu.
Citra negatif ini pula yang kemudian melahirkan sikap pada sebagian Orang Madura, utamanya kaum terpelajar, merasa malu menunjukkan diri sebagai Orang Madura, karena Madura identik dengan keterbelakangan atau kekasaran.
Kenyataan ini tampaknya memang sulit dielakkan karena dua faktor yaitu geografis dan politis. Pertama, secara geografis pulau Madura sebagai tempat orang Madura mengalami proses sosialisasi sejak awal lingkaran kehidupannya, letaknya sangat dekat dan berhadapan langsung dengan Pulau Jawa-tempat orang Jawa mengalami proses yang sama. Setiap bentuk interaksi sosial orang Madura dengan orang luar mau tidak mau pertama-tama akan terjalin dengan orang Jawa sebagai pendukung kebudayaan Jawa. Oleh karena dalam interaksi sosial pasti akan terjadi sentuhan budaya sedangkan kebudayaan Jawa sudah telanjur diakui sebagai kebudayaan dominan (dominant culture) maka dalam ajang persentuhan budaya tersebut masyarakat dan kebudayaan Madura menjadi tersubordinasi sekaligus termarginalkan.
Kedua, fakta sejarah telah menunjukkan bahwa posisi Madura secara politik hampir tidak pernah lepas dari kekuasaan (kerajaan-kerajaan) Jawa. Fakta ini kian mempertegas posisi subordinasi dan marginalitas masyarakat dan kebudayaan Madura. Oleh karenanya, mudah dipahami apabila setiap kali orang Madura akan mengekspresikan dan mengimplementasikan nilai-nilai budaya Madura dalam realitas kehidupan sosial mereka akan selalu cenderung “tenggelam” oleh pesona nilai-nilai adhi luhung budaya Jawa.

B. PEMBAHASAN
Orang Madura mempunyai sifat dinamis, agresif, dan terkadang terlihat tidak sopan. Karena perilakunya sering dianggap tidak terduga dan tak terkendalikan, orang luar condong merasa was-was bila berhadapan dengan orang Madura.(Fox 1997:224/1996:292)
Prof. Dr. Kuntowijoyo (1980/2002) menyimpulkan bahwa ekologi tegalan Madura merupakan factor penting dalam membentuk masyarakat Madura. Dominasi tegalan telah ikut menentukan pola permukiman penduduk dalam satuan taneyan lanjhang dan kampong mejhi yang pada gilirannya mengakibatkan pada terjadinya ikatan kekeluargaan yang kuat. Kenyataan ini menyebabkan hubungan sosial orang Madura sangat berpusat pada individu dengan keluarga inti sebagai satuan dasar solidaritas. Kelangkaan ekologi oleh dominan tegalan menyebabkan lingkungan tidak mampu mendukung satuan keluarga yang lebih besar lagi. Kenyataan ini telah ikut menentukan pola kehidupan sosial orang Madura untuk menciptakan individu yang percaya pada dirinya dibandingkan dengan individu yang bersifat komunal dan kooperatif (Kuntowijoyo, 1980/2002:577)
Ketiadaan surplus ekonomi oleh pengaruh ekologi tegalan yang miskin telah mengurangi kejahatan yang terorganisasi secara komunal seperti perampokan besar-besaran. Oleh karana itu, kekerasan carok yang menjadi cirri orang Madura umumnya sangat bersifat individual (kuntowidjoyo,1980/2002:577) menilai bahwa orang Madura miskin dalam kegiatan usaha untuk mencerahkan kehidupan masyarakat seperti penciptaan seni sastra dan bentuk-bentuk simbolisasi kesenian lainnya
Sebagian besar orang Madura tidak tamat sekolah atau bahkan tidak pernah sekolah. Mereka merupakan pekerja keras yang ulet tidak pernah putus asa sehingga pantang menyerah, penuh percaya diri, memiliki jiwa kewirausahaan. Mereka bertabiat keras, berani dan gigih ddalam perjuangan hidupnya, rajin menabung yang umumnya digunakan naik haji. Kendati bersifat baik karena hemat dan suka menabung, orang Madura mempunyai tabiat cepat curiga pendendam dengan rasa kesukuan dan solidaritas kelompok yang kuat(Sudagung, 1984/2001:139), disertai budaya carok untuk menyelesaikan masalah diantara sesama madura.
Sudagung(1984/2001:131) ,menyimpulkan bahwa temuan lapangan tentang sifat-sifat orang Madura yang tersaksikan merupakan pembawaan dan perilaku mereka yang asli dan alami semua terjelma oleh terpaan lingkungan fisik alam sekitar yang gersang dan tandus, lingkungan biologi yang tidak mencukupi serta lingkungan sosial yang penuh dengan persaingan terhadap pesintasannya.
Sifat etnosentrisme orang Madura memang merangsang hasrat untuk saling membantu dalam bekerja secara keras yang didukung oleh pembawaannya yang unik dan tahan banting. Sayang sifat ini condong untuk membuat mereka kurang memperhatikan kepentingan kelompok masyarakat lain dan juga kurang toleran terhadap suku bangsa lain. Karena pembawaan yang temperamental, mereka gambang tersinggung, sehingga begitu melihat ada gerakan yang dirasakan bakal merugikan diri dan kelompoknya, mereka langsung bereaksi dan mencoba menandingi. Keberhasilan mereka secara sosial ekonomi mengakibatkan meningkatnya kecemburuan sosial yang semakin membesarkan ketegangan di masyarakat majemuk. Hal yang kecil dapat menjadi besar. Pada kelompok yang berwatak keras dan berpendidikan rendah solidaritas gampang sekali muncul sehingga di ajak dan di hasut sedikit saja mereka akan ikut tampa berpikir panjang.
Jordaan (1985) menemukan bahwa manusia Madura merupakan orang yang sulit penuh percaya diri dan angkuh. Mereka suka memamerkan kekayaan sehingga barangnya yang paling mahal terpajang secara mencolok(jordaan, 1986:23). Sifat ini ada hubungannya dengan kesadaran akan posisinya dalam pelapisan sosial di lingkungannya, system pengelompokan yang didasarkan pada kesejahteraan, kekerabatan, macam pekerjaan, aliran agama dan lain-lain.
Orang Madura memiliki etos kerja yang mirip dengan orang China yaitu rajin, ulet, jujur, setia dan terandalkan. Namun orang China kurang senang pada kecepatan orang Madura yang cepat naik darah karena ini bertentangan dengan ajaran kong hu cu yang menganjurkan pengikutnya untuk bersifat mengalah. Mereka juga menyayangkan sikap orang Madura yang kasar dan kurang ajar. Oetomo, 1991 menyimpulkan bahwa secara menyeluruh orang China menghargai hubungan baiknya dengan orang Madura, karena mereka saling membutuhkan dalam kegiatan ekonomi yang tidak saing menyaingi tetapi malah diwarnai oleh sikap dan perilaku oleh kedua belah pihak yang sama-sama rasional, pragmatic dan fungsional.
Irawan & Kasiyun (1993:7,108) menyimpulkan bahwa sikap yang diidealkan orang Madura dalam hidup bernegara dan bermasyarakat adalah cinta tanah air yang besar dan setia pada pimpinan. Sebaliknya, seorang harus rela berkorban demi kepentingan rakyat, adil, tidak boleh sewenang-wenang, dan tepat janji. Orang Madura yang sifat pemberani dan menjunjung harga diri sehingga memilih lebih baik mati berkalang tanah daripada hidup mengandung malu, harus bekerja keras demi tercapainya kesejahteraan dan kebahagiaan. Mereka besikap pantang menyerah dan tidak mau berputus asa sehingga semua harus dihadapi secara jantan dan jujur agar dapat hidup tenang dalam kesederhanaan dengan berendah hati dan saling tolong-menolong.
Dikemukakan oleh Dr Laurence Husson (1995) bahwa kehematcermatan orang Madura yang suka bekerja keras memang terbukti dapat meningkatkan kesejahteraan kehidupan mereka. Citra sifat kaku dan kasar orang Madura yang merantau ke Jawa Timur dikaitkan dengan rendahnya pendidikan orang-orang yang umumnya berasal dari daerah pedesaan pedalaman. Citra kekerasan itu semakin diperkuat karena orang Madura yang tidak berpendidikan cukup tadi memiliki sifat berani berbicara lantang secara terbuka. Mereka mempunyai kesetiaan kepada system dan pranata serta atasan yang mengayominya, dengan ketekunan dan etos kerja tinggi yang tidak takut melakukan pekerjaan apa saja asal halal. Menurutnya pepatah Madura kar-ngakar cople’ (mengais lalu mencocok), atau ajam mon ngakana ghi’ ngakar kaada’ (ayam kalau mau makan mengais dulu-“ibarat ayam tiada mengais tiada makan”) secara tepat menyiratkan kenyataan tersebut. ditemukan bahwa kesungguhan kerja, ketegasan bertindak, keteguhan sikap, dan keberanian menghadapi ketidakpastian lingkungan untuk menghadapi tantangan kesintasan hidupnya telah memotifasi mereka untuk merantau. Pembelaan terhadap kehormatan dan harkat dirinya yang tinggi terutan bila terjadi gangguan terhadap hal-hal yang berkaitan dengan istri, keluarga, tanah, ternak, dan air memang menyebabkan mereka sering terkesan beringas. Disimpulkan bahwa penyebab utama adalah terlembagakannya budaya carok di kalangan orang Madura untuk menyelesaikannya.
Kebiasaan transmigrasi mendapat hambatan-hambatan alam dan lingkungan yang kurang bersahabat sehingga menyebabkan manusia Madura mampu menghadapi tantangan kehidupan keras dengan keoptimalan yang tinggi. Bekerja keras dengan tidak pernah mengenal lelah serta tidak menghiraukan waktu, merupakan pola hidup mereka untuk meraih peluang pemaksimuman nilai kegunaan barang dan jasa langka yang bisa disediakan. Rendahnya pendidikan telah mengharuskan mereka memasuki lapangan kerja dalam sector informal yang tidak memerlukan keterampilan tinggi seperti buruh tani , pedagang ecera, dan sebagai pekerja kasar di bbidang jasa.
Menabung memang merupakan kebiasaan orang Madura, tidak saja dalam bentuk uang, tetapi juga dalam bentuk perhiasan atau hewan ternak. Tabungan ini tidak hanya dimaksudkan sebagai penyediaan paying sebelum hujan, sebab juga dimaksudkan untuk bekal dalam menunaikan ibadah haji ke Mekah. Dorongan naik haji ini semakin kuat karena masyarakat Madura memang meberikan penghargaan status sosial yang lebih tinggi pada warga yang menunjukkan keberhasilan yang diberkahi tuhan tersebut.
Lembaga budaya Carok Madura sering menjurus pada sikap kekerasan untuk menjunjung martabat dan harga diri. Factor budaya yang membiasakan mereka bermain senjata tajam semakin meruncingkan permasalahan, dan ini mendorong orang Madura menjadi kurang toleran terhadap kelompok atau etnis lain di luarnya. Berbagai tindak kekerasan yang terjadi lalu menyebabkan timbulnya anggapan bahwa orang Madura cepat tersinggung dan naik pitam, akibatnya hubungan antara orang Madura dengan etnis lain cenderung diwarnai saling prasangka.
Citra kerapan sapi khas yang digemari mereka memang membersitkan kesan pekerja ulet Madura yang hidup dalam suasana kehematcermatan.
Dalam kaitan dengan kerapan sapi, sifat ini telah menimbulkan kefanatikan luar biasa dalam memelihara ternaknya. Sapi kerapan diperlakukan selayaknya ningrat bangsawan sehingga melahirkan ungkapan yang menyatakan bahwa peternak Madura lebih sayang pada sapi dibanding dengan istrinya. Akibatnya sapi-sapi pilihan itu disanjung, dicintai, dan dimanja, serta diberi santapan istimewa yang tidak mungkin akan disuguhkan pada sanak keluarganya sendiri.


D. PENUTUP
1. Kesimpulan
Dari berbagai konflik yang dialami orang Madura dengan suku bangsa lain, rata-rata permasalahan mereka sama dan diakhiri dengan jalan kekerasan. Hal ini yang mengakibatkan semakin meluasnya citra orang Madura.
Adapun penyebab tindakan kekerasan orang Madura :
Kalau ditelusuri secara praktis, berdasarkan hasil penelitian penulis selama berada di pulau Madura, maka dapat disimpulkan beberapa penyebab terjadinya kekerasan yang melibatkan orang Madura sendiri. Pertama, rasa kecemburuan sosial yang terlalu berlebihan. Di kalangan masyarakat bawah, kecemburuan sosial memang menjadi salah satu pemicu terjadinya tindakan kekerasan yang melibatkan banyak kalangan.
Kecemburuan yang terjadi di masyarakat bawah, pada dasarnya lebih banyak terjadi di lingkungan keluarga. Karena lingkungan keluarga menjadi bahan perbincangan yang kerap kali menimbulkan perselisihan dan percekcokan. Di lingkungan keluarga, kita akan dihadapkan pada satu kehidupan yang serba dilematis. Hal ini memang sering muncul dipermukaan, terutama permasalahan perselingkuhan, perebutan harta warisan, pertengkaran antar saudara, pembunuhan antar keluarga sampai pada persoalan kecil sekalipun. Permasalahan kecemburuan sosial tersebut, pada akhirnya akan berimplikasi negatif terhadap masa depan generasi Madura sendiri.
Kedua, rasa dendam antara kedua belah pihak yang sedang berkecamuk. Rasa dendam yang berkecamuk ini, dapat berakibat fatal terhadap terjadinya pembunuhan massal yang memang sering terjadi di Madura.
Ketiga, rendahnya tingkat pendidikan orang Madura. Mayoritas tingkat pendidikan orang Madura sangat rendah dibandingkan dengan daerah lain. Hal ini, dibuktikan dengan banyak anak muda Madura yang tidak melanjutkan pendidikannya ke jenjang yang lebih tinggi. Orang tua mereka lebih suka anaknya bekerja untuk mencari uang dari pada menyekolahkan anak mereka ke lembaga-lembaga pendidikan. Kecendrungan orang tua tersebut, lebih banyak dilatarbelakangi oleh kondisi ekonomi yang pas-pasan, perpecahan keluarga, rendahnya pendidikan orang tua dan faktor-faktor lain yang menyebabkan anak mereka tidak melanjutkan pendidikannya. Rendahnya tingkat pendidikan orang Madura tersebut, pada gilirannya dapat berpengaruh pada mental dan masa depan mereka di masa mendatang.
Keempat, kurangnya pemahaman terhadap makna substansial ajaran agama. Secara faktual, mayoritas orang Madura adalah beragama Islam. Namun, ke-islaman mereka perlu diaktualisasikan dalam bentuk kehidupan nyata. Kebanyakan dari mereka hanya sekedar melaksanakan kewajiban sebagai orang Islam, akan tetapi pemahaman dan pelaksanaan yang terdapat dalam ajaran mereka tidak mampu dipraktekkan dengan baik. Hal ini, menurut hemat penulis perlu diinterpretasi kembali agar mereka semua sadar bahwa tindakan kekerasan bukan merupakan solusi terbaik dalam memecahkan persoalan.
Karenanya, pemahaman terhadap ajaran agama menjadi sangat penting untuk direvitalisasi. Sebab hal ini, akan memotivasi timbulnya kesadaran untuk memperbaiki diri dari tindakan yang semula merugikan orang lain ke arah tindakan yang dapat bermanfaat dan bernilai bagi kehidupan orang banyak.

2. Saran
Menghadapi realitas sosial budaya ini maka tiada lain yang dapat dan harus dilakukan oleh orang Madura adalah segera melakukan revitalisasi nilai-nilai budaya Madura. Untuk melakukan upaya ini tentu tidak terlalu sulit oleh karena para seniman, budayawan, pakar budaya serta orang-orang yang mempunyai perhatian terhadap budaya Madura secara bersama-sama dapat berperan dan berfungsi sebagai penggali dan penyusun kembali secara sistematis dan komprehensif nilai-nilai budaya Madura yang tidak kalah adhi luhung-nya dengan nilai-nilai budaya Jawa. Sebab, tidak mustahil banyak nilai-nilai budaya tersebut selama ini masih “terpendam” atau sangat mungkin sudah mulai “terlupakan”.
Jika semuanya ini benar-benar dilakukan maka nilai-nilai luhur budaya Madura akan tetap eksis dan mengemuka sebagai referensi utama bagi setiap orang Madura dalam hal berpikir, bersikap, dan berperilaku. Lebih-lebih ketika mereka harus membangun dan menjalin interaksi sosial dengan orang-orang di luar kebudayaan Madura.
Dengan demikian stigma yang selama ini melekat lambat laun akan terhapus, sehingga masyarakat dan kebudayaan Madura tidak akan lagi termarginalkan. Bahkan, ke depan tidak tertutup kemungkinan pada suatu saat masyarakat dan kebudayaan Madura justru akan muncul sebagai salah satu alternatif referensi bagi masyarakat dan kebudayaan lain.
Menyikapi persoalan demikian, tidak seharusnya kita berpangku tangan melihat kenyataan yang sebenarnya. Yang perlu dilakukan saat ini adalah reaktualisasi untuk mengembalikan kepercayaan orang-orang di luar Madura tentang kesan negatif orang Madura. Pertama, melakukan intropeksi diri. Sikap ini, sejatinya harus dikembalikan kepada diri kita sendiri. Karena sebagai orang Madura, kita belum sepenuhnya sadar atas segala tindakan yang dilakukan. Seharusnya kita berkaca diri, memperperbaiki diri dan berupaya untuk tidak melakukan lagi tindakan yang bertentangan dengan prinsip kemanusian lebih-lebih agama.
Kedua, meningkatkan kepercayaan diri kepada orang-orang di luar Madura. Upaya ini sebenarnya merupakan tahapan penting yang perlu diaktualisasikan dalam rangka membangun kembali citra positif orang Madura. Untuk mengimplementasikan upaya ini, diperlukan konsistensi yang tinggi dalam mengupayakan sebuah pemahaman dan pengertian yang mendalam kepada orang-orang di luar Madura.
Ketiga, meningkatkan peran pendidikan secara penuh. Sampai saat ini, tingkat kemajuan pendidikan orang Madura belum menunjukkan peningkatan yang signifikan. Problem ini, lebih banyak diimplikasikan oleh kurangnya kesadaran masyarakat bahwa peran dan posisi pendidikan dalam kehidupan begitu sangat dibutuhkan. Tingkat kemajuan pendidikan pada gilirannya akan menjadi modal mendasar dalam membangun peradaban bangsa ke arah kemajuan yang lebih menjanjikan.
Keempat, meningkatkan pemahaman terhadap nilai-nilai moral dalam kehidupan. Tak dapat dipungkiri, bahwa moral dalam sendi-sendi kehidupan menempati posisi yang sangat vital dan strategis. Karena dari sekian banyaknya persoalan kehidupan tidak lepas dari peran moral di dalamnya. Kita tidak dapat membayangkan, apa yang akan terjadi dalam hidup ini kalau kemudian moral dikesampingkan dan diabaikan oleh orang. Tentu saja malapetaka akan menimpa kehidupan manusia secara keseluruhan. Karena itu, moral menjadi sebuah tonggah kemajuan bangsa dan kebaikan bagi masyarakatnya. Jika moral tidak menjadi landasan dalam kehidupan, maka kita akan menunggu kehancuran kehidupan ini.
Strategi ini, sebenarnya merupakan hipotesis awal dalam memberikan masukan dan tawaran solutif terhadap persoalan yang terjadi. Setidaknya dengan upaya-upaya tersebut, dapat menimalisir tindakan kekerasan yang melibatkan orang Madura.
Kembalinya citra positif orang Madura, pada akhirnya akan memberikan secercah harapan bagi perkembangan Madura di masa depan. Sehingga dambaan untuk membawa Madura ke arah kemajuan dapat menjadi kenyataan. Begitu juga potensi yang ada di Madura, yang perlu dikembangkan lebih lanjut, agar peningkatan sumber daya manusia yang berkualitas benar-benar mampu memberikan nilai-nilai positif bagi orang-orang Madura sendiri.


DAFTAR PUSTAKA
Admin. 2011. Menyikapi Nilai-nilai Negatif Budaya Madura. http://www.lontarmadura.com/2011.08/menyikapi-nilai-nilai-megatif-budaya-madura-2. diakses pada tanggal 19 Oktober 2011
Ilahi, Mohammad Takdir. 2010. Membangun Citer Positif Orang Madura. http://mohammadtakdirilahi.blogspot.com/2010/01/membangun-citra-positif-orang-madura.html diakses pada tanggal 19 Oktober 2011
Rifai, Mien Ahmad. 2007. Manusia Madura : Pembawaan, Perilaku, Etos Kerja, Penampilan, dan Pandangan Hidupnya seperti Dicitrakan Peribahasanya. Yogyakarta : Nuansa Aksara.
Sastrodiwirjo, Kadarisman. 2006. Rekonstruksi Citra Budaya Madura. http://zkarnain.wordperss.com/2006/12/27/rekonstruksi-citra-budaya-madura. diakses pada tanggal 19 Oktober 2011