PELAJAR YANG TIDAK BIASA
Pelajar yang “tidak biasa” (exceptional) adalah anak-anak yang memiliki gangguan atau ketidakmampuan dan anak-anak yang tergolong berbakat.
Dahulu, istilah “ketidakmampuan” (disability) dan “cacat” (handicap) dapat dipakai bersama-sama, namun kini kedua istilah tsb dibedakan. Disability adalah keterbatasan fungsi yang membatasi kemampuan seseorang. Handicap adalah kondisi yang dinisbahkan pada seseorang yang menderita ketidakmampuan. Kondisi ini boleh jadi disebabkan oleh masyarakat, lingkungan fisik, atau sikap orang itu sendiri. Para pendidik lebih sering menggunakan istilah “children with disabilities” (anak yang menderita gangguan/ketidakmampuan), daripada “disabled children” (anak cacat). Tujuannya adalah untuk memberikan penekanan pada anaknya, bukan pada cacat atau ketidakmampuannya. Anak-anak yang menderita ketidakmampuan juga tidak lagi disebut sebagai “handicapped” (penyandang cacat), walaupun istilah handicapping condition masih digunakan untuk mendeskripsikan hambatan belajar dan hambatan fungsi dari seseorang yang mengalami ketidakmampuan. Misalnya, ketika anak yang menggunakan kursi roda tidak memiliki akses yang memadai untuk ke kamar mandi, transportasi, dsb, maka ini disebut handicapping condition.
Kita akan mengelompokkan ketidakmampuan dan gangguan (disorder) sebagai berikut: Gangguan Organ Indra (Sensory), Gangguan Fisik, Retardasi Mental, Gangguan Bicara dan Bahasa, Gangguan Belajar (Learning Disorder), Attention Deficit Hyperactivity Disorder (ADHD), dan juga Gangguan Emosional dan Perilaku.
1. Gangguan Indra; mencakup gangguan atau kerusakan penglihatan dan pendengaran
a) Gangguan Penglihatan. Anak-anak yang menderita low vision (kerusakan penglihatan) punya jarak pandang antara 20/70 dan 20/200 (pada skala Snellen dimana angka normalnya adalah 20/20) apabila dibantu dengan lensa korektif. Anak low vision dapat membaca buku dengan huruf besar-besar atau dengan bantuan kaca pembesar. Anak yang “buta secara edukasional” (educationally blind) tidak bisa menggunakan penglihatan mereka untuk belajardan harus menggunakan pendengaran atau sentuhan untuk belajar. Banyak dari anak low vision ini yang punya kecerdasan normal dan berprestasi secara akademik apabila diberi dukungan dan bantuan belajar yang tepat.
Salah satu tugas penting untuk mengajar anak-anak yang menderita kerusakan indra ini adalah: menentukan modalitas belajar (seperti sentuhan atau pendengaran) yang dengannya murid dapat belajar dengan baik (Bowe, 2000). Anak yang lemah penglihatannya lebih baik disuruh duduk di depan. Selama sekitar setengah abad, “buku rekaman” (recorded textbook) buatan Recording for the Blind & Dislecix telah banyak membantu kemajuan pendidikan dari murid yang mengalami gangguan penglihatan, perseptual atau gangguan lainnya. Lebih dari 90.000 volume buku audio dan komputer telah tersedia secara gratis. Salah satu persoalandalam pendidikan murid yang buta adalah rendahnya penggunaan Braille dan sedikitnya guru yang menguasai Braille dengan baik (Hallahan & Kauffman, 2003).
b) Gangguan Pendengaran. Gangguan pendengaran dapat menyulitkan proses belajar anak. Banyak anak yang memiliki masalah pendengaran mendapatkan pengajaran tambahan di luar kelas reguler. Pendekatan pendidikan untuk membantu anak yang punya masalah pendengaran terdiri atas 2 kategori: Pendekatan Oral dan Penekatan Manual. Pendekatan Oral antara lain menggunakan metode membaca gerak bibir, speech reading (menggunakan alat visual untuk mengajar membaca), dan sejenisnya. Pendekatan Manual adalah dengan bahasa isyarat dan mengeja jari (finger spelling). Bahasa isyarat adalah sistem gerakan tangan yang melambangkan kata. Pengejaan jari adalah “mengeja” setiap kata dengan menandai setiap huruf dari satu kata. Pendekatan oral dan manual dipakai bersama untuk mengajar murid yang mengalami gangguan pendengaran (Hallahan & Kauffman, 2000)
Beberapa kemajuan medis dan tekhnologi, juga telah meningkatkan kemampuan belajar anak yang menderita masalah pendengaran (Boyles & Contadino,1997):
© Pemasangan cochlear (dengan prosedur pembedahan). Ini adalah cara kontroversial karena banyak komunitas orang tuli menentangnya, sebab menganggapnya intrusif dan melukai kultur orang tuli. Yang lainnya beranggapan bahwa pemasangan cochlear ini bisa meningkatkan kualitas hidup banyak anak yang menderita problem pendengaran
© Menempatkan semacam alat di telinga (prosedur pembedahan untuk disfungsi telinga tingkat menengah). Prosedur ini bukan prosedur permanen
© Sistem hearing aids dan amplifikasi
© Perangkat telekomunikasi, teletypewriter-telephone, dan RadioMail (dengan menggunakan internet).
Teaching strategies Bekerja dengan anak penyandang gangguan pendengaran: |
a. Bersikap sabar b. Berbicara secara wajar (tidak terlalu cepat atau lambat) c. Jangan berteriak, sebab tindakan ini tidak akan membantu. Berbicara dengan jelas akan banyak membantu d. Kurangi gangguan dan suara bising e. Tatap murid yang anda ajak bicara, karena murid perlu membaca bibir anda dan melihat isyarat anda |
2. Gangguan Fisik;
Yang termasuk dalam gangguan fisik antara lain adalah ganguan ortopedik, seperti gangguan karena Cerebral Palsy (layuh otak), dan gangguan kejang-kejang (seizure). Banyak anak yang mengalami gangguan fisik ini membutuhkan pendidikan khusus dan pelayanan khusus, seperti transportasi, terapi fisik, pelayanan kesehatan sekolah, dan pelayanan psikologi khusus.
a) Gangguan Ortopedik. Gangguan ortopedik ini biasanya berupa keterbatasan gerak atau kurang mampu mengontrol gerak karena ada masalah otot, tulang atau sendi. Tingkat keparahan gangguan ini bervariasi. Gangguan ortopedik bisa disebabkan oleh problem prenatal (dalam kandungan), atau perinatal (menjelang atau sesudah kelahiran), atau karena penyakit atau kecelakaan saat anak-anak. Dengan bantuan alat adaptif dan tehnologi pengobatan, banyak anak yang menderita gangguan ortopedik bisa berfungsi normal di kelas.
b) Cerebral Palsy. Cerebral palsy adalah gangguan yang berupa lemahnya koordinasi otot, tubuh sangat lemah dan goyah (shaking), atau bicaranya tidak jelas. Penyebab umum dari Cerebral Palsy adalah kekurangan oksigen saat kelahiran. Beberapa tipe Cerebral palsy yang umum adalah tipe Spastic dan Ataxia. Pada tipe spastic, otot anak menjadi kaku dan sulit digerakkan; otot yang kaku sering membuat posisi anggota badan menjadi tidak normal. Tipe ataxia—tipe ini jarang ditemui—otot anak menjadi kaku pada satu waktu, lalu kendur pada waktu yang lain, sehingga gerakan anak menjadi aneh.
Komputer bisa membantu proses belajar penyandang cerebral palsy. Jika mereka bisa melakukan koordinasi untuk menggunakan keyboard, maka mereka bisa mengerjakan tugas tugas menulis di komputer. Pena dengan cahaya bisa digunakan sebagai pointer (penunjuk). Banyak anak penyandang cerebral palsy bicaranya tidak jelas. Untuk anak seperti ini, synthesizer suara dan ucapan, papan komunikasi, serta peralatan talking notes dan page turners dapat meningkatkan kemampuan komunikasi mereka.
c) Gangguan Kejang-kejang. Jenis yang paling sering ditemui adalah epilepsi; gangguan saraf yang biasanya ditandai dengan serangan terhadap sensorimotor atau kejang-kejang. Ada 2 macam tipe epilepsi, yakni absent seizures dan tonic-clonic. Pada absent seizures, anak mengalami kejang-kejang dalam durasi singkat (kurang dari 30 detik), tetapi bisa terjadi beberapa kali sampai seratus kali dalam sehari. Seringkali kemunculannya sangat singkat, atau kadang-kadang ditandai dengan gerakan tertentu seperti mengangkat alis mata. Sedangkan dalam tonic-clonik, anak akan kehilangan kesadarannya dan menjadi kaku, gemetar, dan bertingkah aneh. Bila parah, tonic-clonic bisa berlangsung selama 3-4 menit. Anak yang mengalami epilepsi biasanya dirawat dengan obat anti kejang, yang biasanya efektif dalam mengurangi gejala tapi tidak menghilangkan penyakitnya. Jika sedang tidak kambuh, anak akan berperilaku normal.
Jika di kelas terdapat anak yang mengalami gangguan seperti ini, Guru sebaiknya menguasai prosedur untuk memantau dan membantu anak tsb jika problemnya kambuh.
3. Retardasi Mental;
Ciri utama dari retardasi mental adalah lemahnya fungsi intelektual (Zigler, 2002). Selain tingkat intelegensi yang rendah, biasanya juga anak sulit menyesuaikan diri dan susah berkembang. Berdasarkan definisinya, retardasi mental adalah kondisi sebelum usia 18th yang ditandai dengan rendahnya kecerdasan (biasanya nilai IQ-nya di bawah 70) dan sulit beradaptasi dengan kehidupan sehari-hari. IQ rendah dan kemampuan beradaptasi yang rendah biasanya tampak sejak kanak-kanak, dan tidak tampak pada periode normal. Retardasi mental ini bukan disebabkan oleh kecelakaan/penyakit/cedera otak.
Ketrampilan adaptif antara lain adalah keahlian memerhatikan dan merawat diri sendiri dan mengemban tanggungjawab sosial seperti, berpakaian, buang air, makan-minum, kontrol diri, dan berinteraksi dengan teman sebaya.
Klasifikasi dan Tipe Retardasi Mental;
Tipe Retardasi Mental | Rentang IQ | Persentase |
Ringan Moderat Berat Parah | 55 – 70 40 – 54 25 – 39 < 25 | 89 6 4 1 |
Klasifikasi retardasi mental berdasarkan IQ
Sekitar 85% murid penyandang retardasi mental ternasuk dalam kategori ringan (mild). Pada usia remaja akhir, individu penyandang retardasi mental ringan dapat mengembangkan keahlian akademik yang setara dengan level anak kelas 6 SD. Pada masa dewasa, banyak yang bisa bekerja dan mencari nafkah sendiri dengan dukungan pengawasan atau dukungan kelompok. Individu dengan retardasi mental berat membutuhkan lebih banyak dukungan. Anak penyandang retardasi mental berat kemungkinan besar juga menunjukkan tanda-tanda komplikasi neurologis, seperti cerebral palsy, epilepsi, gangguan pendengaran, gangguan penglihatan, atau cacat bawaan metabolis lainnya yang mempengaruhi sistem saraf pusat.
Umumnya sistem sekolah masih menggunakan klasifikasi: ringan-moderat-berat-parah. Akan tetapi, karena kategorisasi yang berdasarkan skala IQ ini bukan prediktor yang sempurna, maka American Association on Mental Retardation (1992) menyusun sistem klasifiksai baru berdasarkan tingkat dukungan yang dibutuhkan anak penyandang retardasi mental untuk melaksanakan fungsi mereka pada level tertinggi. Kategori baru ini adalah: intermittent, limited, extensive, dan pervasive.
Intermittent | Dukungan diberikan “saat dibutuhkan”. Individu mungkin membutuhkan dukungan episodik atau dukungan jangka pendek selama transisi dalam kehidupannya (seperti saat kehilangan pekerjaan atau krisis medis akut). Dukungan intermittent mungkin diberikan dengan intensitas rendah atau tinggi |
Limited | Dukungan cukup intens dan relatif konsisten dari waktu ke waktu (time-limited) tetapi tidak diselingi dengan jeda. Membutuhkan lebih sedikit staf dan biaya. Dukungan ini mungkin dibutuhkan untuk beradaptasi terhadap perubahan dalam periode dari masa sekolah hingga ke masa dewasa |
Extensive | Dukungan diberikan secara reguler (misalnya, setiap hari), setidaknya dalam beberapa setting (seperti di rumah/sekolah/tempat kerja) dan tidak dibatasi waktu (misalnya, dukungan di rumah) |
Pervasive | Dukungan diberikan secara terus-menerus (konstan), sangat intens, dan diberikan pada hampir semua situasi. Bentuk dukungannya bisa jadi dukungan seumur hidup. Dibandingkan kategori dukungan lain sebagaimana tersebut di atas, dukungan di sini biasanya membutuhkan lebih banyak staf dan intrusif |
Kalsifikasi retardasi mental berdasarkan level dukungan
Penyebab. Retardasi mental disebabkan oleh faktor genetik dan kerusakan otak (Dykens, Hodapp, & Finucane, 2000)
a) Faktor Genetik
Bentuk paling umum dari retardasi mental adalah: Down Syndrome dan Fragile X Syndrome. (1) Down Syndrome (sindrom down) yang diwariskan (ditransmisikan) secara genetik. Penyandang sindrom down ini memiliki kromosom lebih dari jumlah kromosom normal (kromosom ke-47). Penyandang Sindrom down memiliki karakteristik fisik yang khas, yaitu berwajah bulat, tengkorak yang datar, ada kelebihan lipatan kulit di atas alis, lidah panjang, kaki pendek, dan retardasi (ketidakmampuan) kemampuan fungsi motorik dan mental. Belum diketahui kenapa ada kromosom lebih, tetapi hal tsb mungkin sangat dipengaruhi oleh kesehatan sperma pria dan ovum wanita. Wanita berusia antara 18-38thn kecil kemungkinan melahirkan anak sindrom down, dibandingkan wanita pada usia di bawah 18 atau di atas 38thn. Menurut data, 1 dari 700 kelahiran terkena sindrom ini.
Cara penanganan; Dengan intervensi dini dan dukungan ekstensif dari keluarga anak dan dari kalangan profesional, banyak anak sindrom down bisa tumbuh menjadi orang dewasa yang mandiri. Anak penyandang dindrom down bisa termasuk dalam kategori retardasi mental ringan hingga berat. (2) Fragile X Syndrome adalah jenis kedua pada retardasi mental. Sindrom ini diwariskan secara genetik melalui kromosom X yang tidak normal, yang menyebabkan retardasi mental rigan hingga berat. Pada umumnya, pria lebih banyak masuk dalam kategiri berat dari pada wanita. Ciri-ciri penyandang sindrom fragile X: Wajahnya memanjang, rahang menonjol, telinga panjang, hidung pesek, dan koordinasi tubuh yang buruk. Sekitar 7% wanita dengan retardasi mental ringan disebabkan oleh sindrom fragile X ini.
b) Kerusakan Otak
Kerusakan otak dapat diakibatkan oleh bermacam-macam infeksi atau karena faktor lingkungan luar. Infeksi pada ibu hamil, seperti rubella (German measles), sipilis,herpes, dan AIDS, dapat menyebabkan retardasi mental pada janin. Meningitis dan encephalitis adalah infeksi yang bisa muncul pada masa kanak-kanak. Infeksi ini bisa menyebabkan pembengkakan otak dan menyebabkan retardasi mental.
Faktor luar yang bisa menyebabkan retardasi mental antara lain adalah benturan di kepala, malnutrisi, keracunan, luka saat kelahiran, atau karena ibu hamil kecanduan alkohol. Fetal Alcohol Syndrome (FAS) adalah serangkaian ketidaknormalan, termasuk retardasi mental dan ketidaknormalan wajah, yang muncul dalam diri anak dari ibu yang kecanduan minuman beralkohol pada waktu hamil. FAS menimpa sepertiga jumlah kelahiran pada wanita pecandu alkohol.
Teaching Strategies Bekerja dengan Anak Penyandang Retardasi Mental |
Selama masa sekolah, tujuannya utamanya adalah mengajarkan keahlian pendidikan dasar kepada anak penyandang retardasi mental; seperti ketrampilan membaca, matematika, dsb. Berikut ini beberapa strategi mengajar yang baik untuk berinteraksi dengan penyandang retardasi mental: 1. Membantu anak untuk berlatih menentukan pilihan personal dan determinasi diri jika memungkinkan 2. Selalu ingat level mental anak. Tingkat fungsi mental anak penyandang retardasi mental biasanya lebih rendah dari anak normal lain di kelas anda. Jika anda memulai pada satu level pengajaran, dan anak tidak merespon secara efektif, turunkan level pengajaran 3. Sesuaikan instruksi pengajaran anda dengan kebutuhan si anak 4. Sebagaimana halnya mengajar anak yang mengalami ketidakmampuan yang lainnya, berilah contoh konkret dari suatu konsep. Gunakan instruksi pengajaran yang jelas dan sederhana 5. Beri anak retardasi mental kesempatan untuk melatih apa-apa yang telah mereka pelajari. Suruh mereka mengulangi beberapa kali konsep yang telah mereka pelajari sampai mereka menguasainya 6. Perhatikan rasa penghargaan diri si anak. Jangan membanding-bandingkan anak dengan anak normal/yang tidak terkena retardasi mental 7. Jangan berprasangka negatif terhadap kemampuan belajar anak. Biasanya guru tanpa disadari cenderung menganggap anak retardasi mental sebagai anak yang tidak berprestasi secara akademik. Tentukan tujuan maksimal untuk pembelajaran si anak 8. Sadari bahwa banyak anak penyandang retardasi mental bukan hanya memiliki kebutuhan akademik, tetapi juga membutuhkan bantuan untuk meningkatkan ketrampilan merawat diri dan ketrampilan sosial 9. Cari dukungan sumber daya. Gunakan asisten guru dan rekrut sukarelawan untuk membantu anda mendidik anak retardasi mental. Para relawan/asisten tsb bisa membantu anda untuk meningkatkan jumlah instruksi kepada anak 10. Pertimbangkan untuk menggunakan strategi analisis perilaku. Langkah-langlah yang tepat dalam menerapkan analisis perilaku akan membantu anda menggunakan penguatan positif secara efektif pada anak retardasi mental. Kita akan membahas analisis perilaku secara mendalam dalam bab 7: Pendekatan Behavioral dan Kognitif Sosial 11. Jika anda mengajar di kelas menengah, evaluasilah keahlian vokasional yang dibutuhkan murid retardasi mental untuk mendapatkan pekerjaan 12. Libatkan orangtua sebagai mitra mendidik anak. |
4. Gangguan Bicara dan Bahasa;
Gangguan ini adalah gangguan/masalah dalam berbicara (seperti: gangguan artikulasi, gangnguan suara, dan gangguan kefasihan bicara), dan problem bahasa (seperti: kesulitan menerima informasi dan mengekspresikan bahasa).
a) Gangguan Artikulasi. Gangguan artikulasi adalah problem dalam pengucapan suara secara benar. Artikulasi pada anakk usia 6 atau 7 thn tidak selalu bebas dari kesalahan, tetapi pada usai 8 thn semestinya artikulasi mereka sudah tidak salah lagi. Anak penderita problem artikulasi mungkin sulit berkomunikasi dengan teman/guru dan mungkin mereka merasa malu. Akibatnya, anak enggan bertanya, tidak mau berdiskusi, atau berkomunikasi dengan temannya.
Cara mengatasi: problem artikulasi umumny bisa diperbaiki dengan terapi wicara, meskipun dibutuhkan waktu berbulan-bulan atau bertahun-tahun.
b) Gangguan Suara. Gangguan suara tampak dalam ucapan yang tidak jelas, keras, terlalu kencang, terlalu tinggi, atau terlalu rendah. Suara anak-anak yang berbibir sumbing biasanya sulit dimengerti. Jika seorang anak berbicara dengan cara yang sulit dipahami, maka mintalah supaya anak tsb dibawa ke terapis wicara.
c) Gangguan Kefasihan. Gangguan kefasihan atau kelancaran bicara biasanya dinamakan “gagap”. Kondisi ini terjadi ketika ucapan anak terbata-bata, jeda panjang, atau berulang-ulang. Kecemasan yang dirasakan anak karena gagap biasanya membuat kondisi mereka makin parah. Sangat dianjurkan bagi keluarga untuk membawanya kkke ahli terapi wicara.
d) Gangguan Bahasa. Gangguan bahasa adalah kerusakan signifikan dalam bahasa reseptif atau bahasa ekspresif anak. Gangguan bahasa dapat menyebabkan problem belajar serius. Perawatan oleh ahli terapi wicara biasanya bisa memperbaiki gangguan bahasa si anak, namun problem ini biasanya tidak dapat hilang sama sekali. Gangguan bahasa mencakup 3 kesulitan:
© Kesulitan menyusun pertanyaan untuk memperoleh informasi yang diharapkan
© Kesulitan memahami dan mengikuti perintah lisan
© Kesulitan mengikuti percakapan, terutama ketika percakapan itu berlangsung cepat dan dengan bahasa yang kompleks
Kesulitan-kesulitan ini berkaitan dengan gangguan bahasa reseptif maupun ekspresif.
Bahasa reseptif adalah penerimaan dan pemahaman atas bahasa. Anak penyandang gangguan bahasa reseptif akan kesulitan untuk menerima informasi. Informasi masuk tetapi otak akan sulit untuk memprosesnya secara efektif, yang menyebabkan anak kelihatan cuek atau bengong saja.
Setelah pesan diterima dan diinterpretasikan, otak perlu menyusun respon.
Bahasa ekspresif adalah kemampuan menggunakan bahasa untuk mengekspresikan pikiran dan berkomunikasi dengan orang lain. Beberapa anak bisa dengan mudah memahami apa yang diucapkan oleh orang lain, namun mereka kadang kesulitan untuk memberi tanggapan atau mengekspresikan pendapatnya.
Ciri-ciri anak yang memiliki gangguan bahasa ekspresif oral:
© Mereka mungkin tampak malu dan mebarik diri, dan punya problem dalam berinteraksi secara sosial
© Cenderung menunda dalam memberikan jawaban
© Cenderung kesulitan menemukan kata yang tepat
© Pemikiran mereka mungkin ruwet dan tidak tertata, sehingga memusingkan pendengarnya
© Mereka mungkin menghilangkan bagian integral dari suatu kalimat atau informasi yang dibutuhkan untuk pemahaman
Teaching strategies Bekerja dengan Anak Penyandang Gangguan Bahasa Reseptif atau Ekspresif Oral |
Berikut ini strategi untuk membantu murid penyandang gangguan bahasa reseptif: 1. Gunakan pendekatan multisensory untuk proses belajar, bukan hanya pendekatan oral saja. Lengkapi informasi oral dengan materi atau petunjuk tertulis 2. Monitor kecepatan anda dalam memberikan informasi. Perlambat dan periksa kembali seberapa jauh pemahaman anak 3. Beri mereka waktu untuk merespon, kira-kira 10-15 detik 4. Beri contoh konkret dan spesifik dari suatu konsep abstrak Berikut ini beberapa strategi untuk membantu murid yang mengalami gangguan bahasa ekspresif oral: 1. Beri anak banyak waktu untuk merespon 2. Sadari bahwa anak punya kesulitan menjawab secara lisan, karenanya cobalah suruh anak mengerjakan tugas tertulis daripada menjawab secara lisan 3. Sediakan pilihan atau beri contoh suara untuk mengatasi problem pencarian kata 4. Biarkan anak tahu lebih dahulu pertanyaan yang akan diajukan sehingga anak dapat menyiapkan jawaban dan karenanya tampak lebih kompeten di mata teman-temannya |
5. Ketidakmampuan Belajar (Learning Disability);
Berdasarkan definisinya, anak penyandang gangguan belajar adalah:
1. Punya kecerdasan normal/di atas normal
2. Kesulitan dalam setidaknya 1 (atau lebih) mata pelajaran
3. Tidak memiliki gangguan lain (seperti retardasi mental)
Konsep umum gangguan atau ketidakmampuan belajar mencakup problem dalam: kemampuan mendengar, berkonsentrasi, berbicara, berpikir, memori, membaca, menulis, dan mengeja dan atau ketrampilan sosial (Kamphaus, 2000).
Gangguan belajar sulit diidentifikasi. Ketidakmampuan untuk belajar seringkali mencakup kondisi yang bisa jadi berupa adanya problem dalam: mendengar, berkonsentrasi, berbicara, membaca, menulis, menalar, berhitung atau problem interaksi sosial. Jadi, anak yang memiliki masalah gangguan belajar boleh jadi memiliki profil yang berbeda-beda (Henley, Ramsey,&Algozzine, 1999).
Gangguan belajar mungkin berhubungan dengan kodisi medis seperti fetal alcohol syndrome. Gangguan belajar juga terjadi bersama dengan gangguan lainnya, seperti gangguan komunikasi dan gangguan perilaku emosional. Beberapa area akademik umum yang menjadi masalah bagi anak penyandang ketidakmampuan belajar adalah pada pelajaran membaca, bahasa tulis, dan matematika. Bidang paling umum yang menyulitkan anak-anak ini adalah aktivitas membaca, terutama ketrampilan fonologis, yang menyangkut cara memahami bagaimana suara dan huruf membentuk kata. Dyslexia adalah kerusakan parah dalam kemampuan untuk membaca dan mengeja. Penyandang gangguan belajar seringkali sulit menulis dengan tangan, mengeja atau menyusun kalimat. Mereka kadang menulis dengan sangat lambat, tulisan mereka buruk sekali dan banyak terdapat kesalahan ejaan karena ketidakmampuan mereka untuk menyesuaikan huruf dengan bunyinya.
Klasifikasi gangguan belajar terbaru menyangkut determinasi “either/or”: seorang anak mungkin menyandang gangguan belajar atau mungkin juga tidak. Akan tetapi dalam kenyataannya,intensitas ketidakmampuan/gangguan belajar sangat bervariasi (Reschly, 1996). Ketidakmampuan belajar yang berat, seperti dyslexia, telah dikenal lebih dari satu abad dan mudah untuk didiagnosis. Nemun kebanyakan anak mengalami gangguan belajar dalam intensitas ringan, sehingga sulit dibedakan dari anak tanpa gangguan belajar. Karena di AS tidak ada kriteria klasifikasi yang disepakati secara nasional, masih terdapat keragaman dalam cara mengidentifikasi murid penyandang kesulitan belajar. Dan bahkan para guru pun berbeda-beda dalam menentukan kriteria tsb (Lyon, 1996).
Kendati gangguan belajar itu bervariasi, dampak dari masalah ketidakmampuan belajar ini terlihat jelas dan relatif menetap. Kebanyakan problem ini bertahan lama, bahkan seumur hidup. Dibandingkan anaka yang tidak memiliki masalah dalam belajar, maka anak yang memili masalah kesulitan belajar lebih mungkin berprestasi buruk, drop out, nilainya di SMA buruk, dan memperoleh pekerjaan rendahan. Anak yang mengalami gangguan belajar yang diajar dalam kelas reguler tanpa dukungan ekstensif jarang mencapai level kompetensi yang setara dengan anak yang tidak memiliki kesulitan belajar. Akan tetapi, walaupun mereka memiliki problem ini, banyak anak yang mengalami gangguan belajar tumbuh dan menjalani hidup normal dan melakukan pekerjaan yang produktif. Meningkatkan kemampuan anak yang mengalami kesulitan belajar ini adalah tugas yang sulit dan umumnya membutuhkan intervensi intensif agar mereka mampu memberikan hasil yang baik. Belum ada model program yang terbukti efektif untuk semua anak yang memiliki masalah ketidakmampuan ini.
Identifikasi; diagnosis anak yang mengalami gangguan belajar, terutama dalam bentuk ringan sangat sulit. Anak yang mengalami kesulitan belajar biasanya tidak terlalu tampak gejalanya, dapat berkomunikasi secara verbal, dan tidak menarik diri dari lingkungan. Salah satu prosedur identifikasi mensyaratkan diskrepansi signifikan antara prestasi aktual dengan prestasi yang diharapkan. Prestasi yang diharapkan tsb dinilai dengan tes intelegensi secara individual. Identifikasi awal terhadap gangguan belajar biasanya dilakukan oleh guru kelas. Apabila dicurigai ada anak yang mengalaminya, guru akan memanggil spesialis. Tim profesional antar disiplin biasanya adalah yang paling cocok untuk memverifikasi apakah seorang murid mengalami gangguan atau tidak. Diperlukan evaluasi psikologi individual, atau bisa ditambah dengan tes keahlian visual-motor, bahasa, dan memori.
Pada masa kanak-kanak awal, ketidakmampuan ini seringkali tampak dalam bahasa reseptif dan ekspresif. Input dario rangtua dan guru perlu dipertimbangkan esbelum membuat keputusan final. Di banyak sekolah, patokan awal untuk mencurigai bahwa seorang murid mengalami kesulita belajar adalah ketika murid masih sulit membaca setelah masuk grade/kelas 2. Namun jika kelemahan di grade/kelas 2 ini diinterpretasikan secara kaku, banyak anak tidak akan mendapat bantuan bahkan ketika mereka menunjukkan tanda-tanda gangguan beajar yang jelas.
Strategi Intervensi; Banyak intervensi difokuskan pada upaya meningkatkan kemampuan membaca anak. Misalnya dalam satu studi, 65 murid dengan gangguan dyslexia berat diberi 65 jam pengajaran di luar pengajaran kelompok untuk mempelajari fonologi dan ketrampilan berpikir. Intervensi intensif ini berhasil meningkatkan kemampuan membaca anak-anak penyandang dyslexia.
Anak-anak yang lemah dalam penguasaan fonologi, yang membuatnya susah mengenali kata, biasanya merespon secara lebih lambat ketimbang anak-anak yang memiliki masalah membaca tingkat ringan. Gangguan dalam kemampuan membaca telah menjadi target studi intervensi yang paling lazim karena ini adalah bentuk paling umum dari gangguan belajar. Gangguan ini juga mudah diidentifikasi, dan mempresentasikan area gangguan belajar yang paling banyak kita ketahui. Intervensi untuk tipe gangguan belajar lain telah diciptakan, tetapi belum diriset secara ekstensif.
Salah satu analisis terhadap studi intervensi terhadap anak yang memiliki masalah dalam belajar ini menemukan bahwa model kombinasi pengajaran strategi dan pengajaran langsung akan menghasilkan efek yang paling baik. Tipe instruksi ini terutama berefek positif terhadap pemahaman membaca, kosa kata, dan kreativitas. Di antara komponen pengajaran yang paling cocok untuk anak penderita gangguan belajar adalah kelompok interaktif kecil, teknologi, memperluas metode pengajaran guru (ex: memberikan pekerjaan rumah), memberikan soal-soal khusus, dan memberi petunjuk.
Teaching strategies Bekerja dengan Anak yang Mengalami Gangguan Belajar |
Berikut ini strategi untuk membantu murid yang mengalami Gangguan Belajar: 1. Perhatikan kebutuhan anak penderita gangguan belajar saat memberi pengajaran. Jelaskan tujuan dari pelajaran. Sajikan secara visual di papan tulis atau dengan proyektor. Petunjuk yang anda berikan harus sejelas mungkin. Terangkan kepada mereka secara lisan. Gunakan contoh konkret untuk mengilustrasikan konsep-konsep abstrak. 2. Sediakan akomodasi untuk ujian dan penugasan. Ini bisa dilakukan dengan mengubah lingkungan akademik sehingga anak bisa menunjukkan apa yang mereka ketahui. Akomodasi biasanya dengan mengubah jumlah pembelajaran yang harus ditunjukkan murid. Akomodasi yang paling umum antara lain: instruksi membaca bagi anak, memberi tanda pada kata penting (ex: garis bawah), tes tanpa batas waktu, dan tugas tambahan 3. Buat modifikasi. Strategi ini mengubah cara pengajaran itu sendiri, dengan membuatnya berbeda dari pengajaran untuk anak-anak lain, dalam rangka mendorong rasa percaya diri anak dan meningkatkan harapan kesuksesannya. Ex: suruhlah murid penyandang dyslexia untuk memberikan laporan lisan, sedangkan anak lain harus membuat laporan secara tertulis 4. Tingkatkan ketrampilan organisasioal dan belajar. Umumnya, penyandang kesulitan belajar tidak memiliki kemampuan orgnisasional yang bagus. Maka, guru dan orangtua dapat mendorong mereka untuk membuat kalender jangka pendek dan jangka panjang, dan membuat daftar “hal-hal yang harus dilakukan” setiap harinya. Proyek ini harus dipecah menjadi elemen-elemen kecil dengan langkah dan tenggat waktu untuk setiap bagian. 5. Ajarkan ketrampilan membaca dan menulis. Tipe gangguan kesulian yang paling umum adalah problem membaca. Pastikan bahwa menurut ahli, aak mengalami gangguan membaca, termasuk defisit dalam ketrampilan membaca. Anak yang memiliki masalah dalam membaca, seringkali membaca dengan sangat pelan, sehingga mereka perlu diberi petunjuk terlebih dahulu di luar penugasan membaca dan diberi lebih banyak waktu untuk membaca di kelas. |
6. ADHD (Attention Deficit Hyperactivity Disorder);
Ciri-ciri anak dengan gangguan Attention Deficit Hyperactivity Disorder atau ADHD adalah:
1) kurang perhatian (inattentive); sulit berkonsentrasi pada satu hal dan mungkin cepat bosan mengerjakan tugas
2) hiperaktif; anak hiperaktif menunjukkan level aktifitas fisik yang tinggi, dan hampir selalu bergerak
3) impulsif; anak impulsif sulit mengendalikan reaksinya dan gampang bertindak tanpa paikir panjang
Anak yang gejala ADHD bisa didiagnosis sebagai:
1) ADHD dengan kecenderungan lebih pada kurang perhatian,
2) ADHD dengan kecenderungan lebih pada hiperaktif/impulsif, atau
3) ADHD dengan kecenderungan baik itu kurang perhatian maupun hiperaktif/impulsif
Banyak anak ADHD sulit diatur, kurang toleransi tehadap rasa frustasi dan punya masalah dengan hubungan teman sebaya. Karakteristik lainnya adalah ketidakdewasaan dan sedikit dekil/tidak rapi. Meskipun tanda-tanda ADHD seringkal muncul sejak usia prasekolah, namun seringkali gangguan ini baru ketahuan saat usia SD.
Jumlah anak yang didiagnosis dan dirawat karena ADHD semakin meningkat, namun ada kontroversi mengenai hal ini. Beberapa pakar menghubungkan peningkatan ini terutama pada peningkatan kesadaran akan adanya gangguan tsb. Beberapa pakar lainnya mengatakan bahwa banyak anak yang salah didiagnosis tanpa melalui evaluasi profesional berdasarkan masukan dari banyak sumber.
Dahulu, ADHD dianggap akan berkurang saat anak masuk remaja, tetapi kini diyakini bahwa hal itu jarang terjadi. Perkiraan menunjukkan bahwa ADHD hanya menurun sekitar sepertiga di masa remaja. Gangguan ini bahkan terus berlanjut hingga masa dewasa. Sebab utama ADHD masih belum ditemukan. Beberapa ilmuwan mengidentifikasi beberapa penyebab ADHD, yaitu: rendahnya level neurotransmitter (pesan kimiawi dalam otak), abnormalitas prenatal, dan abnormalitas postnatal. Hereditas mungkin berperan, sebab 30-50% anak ADHD punya saudara atau orangtua yang mengalami gangguan serupa. Diperkirakan 85-90% anak ADHD menggunakan obat stmulan—seperti Ritalin—untuk mengendalikan perilakunya. Para periset menemukan bahwa kombinasi obat dan manajemen perilaku bisa memperbaiki perilaku anak ADHD secara lebih baik dari pada haya dengan menggunakan obat saja atau manajemen perilaku saja. Namun tidak semua anak merespon positif terhadap obat/stimulan ini, dan beberapa pengkritik mengatakan bahwa dokter terlalu tergesa-gesa memberikan resep stimulan untuk anak penyandang ADHD ringan.
7. Gangguan Emosional dan Perilaku;
Kebanyakan anak pernah mengalami gangguan emosional pada satu waktu tertentu pada masa sekolah. Namun hanya sedikit murid yang punya problem serius dan bertahan lama yang diklasifikasikan sebagai gangguan emosional dan perilaku. Gangguan perilaku dan emosional terdiri dari: problem serius dan terus-menerus yang berkaitan dengan hubungan, agresi, depresi, ketakutan yang berkaitan dengan persoalan pribadi atau sekolah, dan juga berhubungan dengan karakteristik sosioemosional yang tidak tepat. Kira-kira 8% dari anak yang menderita ketidakmamapuan dan memerlukan pendidikan tersendiri termasuk ke dalam klasifikasi ini. Anak lelaki 3x lebih besar kemungkinan mengalami gangguan ini dibandingkan anak perempuan (U.S.Department of Education, 2000).
Ada bermacam-macam istilah untuk mrndeskripsikan gangguan emosional dan perilaku, antara lain emosional disturbances, behavior disorders, maladjusted children, namun istilah yang akhir-akhir ini sering dipakai adalah serious emotional disturbances (SED).
a) Perilaku agresif, di Luar Kontrol
Beberapa anak yang digolongkan memiliki gangguan emosional serius dan melakukan tindakan yang mengganggu, agresif, membangkang, atau membahayakan, biasanya akan dikeluarkan dari sekolah. Perilaku ini lebih banyak terjadi pada diri anak lelaki daripada anak perempuan, dan kebanyakan dari keluarga kelas menengah ke bawah.
Anak yang mengalami gangguan emosional lebih mungkin diklasifikasikan sebagai punya problem dalam berhubungan pada masa sekolah menengah. Akan tetapi, mayoritas anak semacam ini mulai menunjukkan tanda-tanda problem emosionalnya pada saat SD.
b) Depresi, Kecemasan, dan Ketakutan
Beberapa anak suka memendam problem emosional mereka, sehingga depresi, kecemasan dan ketakutan mereka menjadi semakin hebat dan menetap sehingga kemampuan mereka dalam belajar semakin menurun. Semua anak merasa tertekan dari waktu ke waktu, tetapi kebanyakan bisa mengatasi problem emosional dan mood suasana hati) negatif ini dalam beberapa jam/hari. Namun ada beberapa anak yang mood negatifnya lebih serius dan bertahan lama.
Depresi adalah jenis gangguan mood dimana pengidapnya merasa dirinya tidak berharga sama sekali, percaya bahwa keadaan tidak akan pernah membaik, tampak lesu dan tidak bersemangat dalam jangka waktu yang lama. Depresi lebih mungkin muncul pada usia remaja dari pada anak-anak dan lebih banyak terjadi pada anak perempuan dari pada anak laki-laki. Para pakar depersi mengatakan bahwa perbedaan gender ini mungkin disebabkan oleh sejumlah faktor, yaitu: 1) perempuan cenderung memerhatikan perasaannya yang tertekan dan membesar-besarkannya, sedangkan lelaki cenderung mengalihkan perhatian dan mood negatif, 2) pada masa remaja, citra diri perempuan cenderung lebih negatif daripada laki-laki, 3) dan bias sosial terhadap prestasi wanita mungkin juga ikut berpengaruh.
Waspadalah terhadap gejala-gejala depreasi dalam diri anak. Karena biasanya dipendam, depresi biasanya lebih sulit dilihat daripada perilaku agresif dan bandel. Jika anda menduga bahwa ada murid yang depresi, ajak murid itu bertemu dengan pembimbing sekolah (atau guru bimbingan/guru BP). Terapi kognitif dan terapi obat biasanya efektif dalam membantu anak agar tidak terlalu tertekan.
Kecemasan (anxiety) adalah perasaan yang tidak menentu sekaligus tidak menyenangkan. Anak-anak pada umumnya pernah mengalami kecemasan saat mengalami tantangan hidup, tetapi pada beberapa anak kecemasan itu berlebihan dan bertahan lama sehingga mengganggu belajarnya. Jika ada murid yang menunjukkan tanda-tanda kecemasan terus-menerus, ajaklah si anak menemui guru BP. Beberapa terapi behavioral bisa efektif untuk mengurangi kecemasan dan ketakutan yang berlebihan.
Isu Pendidikan yang Berkaitan dengan Anak Berkebutuhan Khusus
1. Aspek Hukum
Undang-undang Pendidikan:
Pada 1990 terdapat undang-undang di USA tentang Individual with Disabilities Education Act (IDEA), yang menetapkan mandat luas untuk pelayanan bagi semua anak penderita ketidakmampuan. Mandat ini mencakup: 1) evaluasi dan determinasi eligibilitas, 2) pendidikan yang tepat dan rancangan pendidikan yang disesuaikan dengan setiap anak (IEP= Individualized Education Plan), dan 3) pendidikan dalam lingkungan yang tidak terlalu ketat (LRE= Education in Least Restrictive Environment).
Keterangan:
1) evaluasi dan determinasi eligibilitas; anak yang memiliki ketidakmampuan dievaluasi guna menentukan eligibilitas mereka untuk memperoleh layanan sesuai ketentuan IDEA. Orangtua harus diundang untuk berpartisipasi dalam proses evaluasi tsb. Jika evaluasi tsb menunjukkan anak menderita ketidakmampuan dan membutuhkan pepndidikan khusus, sekolah harus menyediakan layanan yang tepat bagi si anak.
2) pendidikan yang tepat dan rancangan pendidikan yang disesuaikan dengan setiap anak (IEP= Individualized Education Plan); IDEA mensyaratkan agar murid yang menderita ketidakmampuan atau gangguan diberi rancangan pendidikan yang disesuaikan dengan diri si anak/IEP. IEP ini adalah pernyataan tertulis yang menatakan sebuah program yang disusun untuk anak berkebutuhan khusus. Secara umum, IEP haruslah: a) sesuai dengan kemampuan belajar si anak, b) disusun khusus untuk memenuhi kebutuhan individual anak—tidak sekedar menyalin apa-apa yang sudah diberikan kepada anak lain, dan c) didesain untuk memberikan manfaat pendidikan.
3) pendidikan dalam lingkungan yang tidak terlalu ketat (LRE= Education in Least Restrictive Environment); dalam IDEA, anak berkebutuhan khusus harus dididik dalam lingkungan dengan restriksi minimal. Ini berarti sebuah setting yang semirip mungkin dengan setting tempat mendidik anak yang tidak berkebutuhan khusus. Ketentuan IDEA ini memberikan dasar hukum untuk mendidik anak berkebutuhan khusus di sebuah kelas reguler. Pendidikan anak berkebutuhan khsusu dinamakan inklusi (inclusion): yang berarti mendidik anak dengan pendidikan spesial di kelas reguler.
2. Penempatan dan Pelayanan
Anak berkebutuhan khusus dapat ditempatkan dalam berbagai setting, dan serangkaian pelayanan dapat dipakai untuk meningkatkan pendidikan mereka.
Penempatan. Penempatan anak berkebutuhan khusus ini disusun dari tempat yang kurang restriktif sampai ke yang paling restriktif, yaitu:
· Kelas reguler dengan dukungan pengajaran tambahan di kelas reguler
· Sebagian waktu dihabiskan di ruang sumber daya
· Penempatan full-time dalam kelas pendidikan khusus
· Sekolah khusus
· Instruksi rumah
· Instruksi di rumah sakit atau institusi lain
Pelayanan. Pelayanan untuk anak berkebutuhan khusus dapat disediakan oleh guru kelas reguler, guru sumber daya, guru pendidikan khusus, konsultan kolaboratif, profesional lain, atau tim interaktif.
Keterangan:
Guru kelas reguler; dengan meningkatnya inklusi, guru kelas reguler bertanggungjawab memeberikan lebih banyak pendidikan bagi anak yang menderita ketidakmampuan belajar ketimbang di masa lalu. Teaching strategies di bawah ini dapat membantu anda memberikan pendidikan yang lebih efektif kepada anak-anak lain:
Teaching strategies Guru Kelas Reguler untuk Menangani Anak Berkebutuhan Khusus |
1. Jalankan rencana pendidikan individual (Individualized Educational Plan—IEP) untuk setiap ABK 2. Dorong sekolah anda untuk memberikan tambahan dukungan dan training cara mengajar ABK 3. Gunakan dukungan yang tersedia dan cari dukungan lain. Banyak orang yang terdidik di komunitas yang mungkin mau meluangkan waktunya untuk membantu anda memberikan pengajaran individual kepada ABK 4. Pelajari dan pahami tipe-tipe ABK di kelas anda. Baca jurnal-jurnal pendidikan—seperti Exceptional Children, Teaching Exceptional Children, dan Journal of Learning Disabilities—agar anda selalu memperoleh informasi terkini tentang ABK. Kalau bisa, lanjutkan pendidikan anda ke universitas atau ambil kursus tentang topik-topik yang berkaitan dengan ABK, retardasi mental, ketidakmampuan belajar, atau gangguan emosional 5. Berhai-hatilah dalam memberi label anak yang mengalami ketidakmampuan. Adalah mudah terjebak dalam penggunaan label untuk menjelaskan anak-anak yang mengalami kesulitan belajar. Misalnya, guru mungkin berkata: “si Adi sulit membaca karena dia menderita gangguan belajar”, padahal si guru hanya tahu bahwa ada alasan lain yang tidak diketahuinya yang menyebabkan Adi susah belajar membaca. Pelabelan ini juga akan selalu diingat oleh anak meski sudah mengalami perkembangan dalam belajarnya. Ingat bahwa istilah retardasi mental dan gangguan atau ketidakmampuan belajar adalah label deskriptif untuk gangguan. Selalu pikirkan untuk mencari kondisi terbaik yang bisa meningkatkan kemampuan belajar mereka dan bagaimana mereka dapat dibantu membuat kemajuan, bukan sekedar mengubah labelnya 6. Ingat, bahwa ABK mendapat banyak manfaat dari strategi pengajaran yang sama dengan yang diberikan kepada anak “normal”. Strategi tsb antara lain: · Penuh perhatian, menerima, dan sabar · Memiliki ekspektasi positif terhadap pembelajaran · Membantu anak mengembangkan keahlian komunikasi sosial, dan juga keahlian akademiknya · Rencanakan dan susun kelas secara efektif · Bersemangatlah dan bantu anak agar termotivasi belajar · Pantau pembelajaran anak dan beri umpan balik yang efektif 7. Bantu anak “normal” untuk memahami dan menerima ABK. Berikan kepada mereka informasi tentang ABK dan ciptakan kesempatan bagi mereka untuk berinteraksi satu sama lain secara positif. Tutoring teman sebaya dan pembelajaran kooperatif dapat dipakai untuk mendidik ABK 8. Selalu cari informasi terbaru tentang tekhnologi yang tersedia untuk mendidik ABK |
Guru Sumber Daya; bertugas untuk meninngkatkan kemampuan ABK dalam membaca, menulis, dan matematika. Adalah penting bagi guru sumber daya dan guru kelas reguler untuk bekerjasama dan mengkoordiasikan kerja mereka. Dalam beberapa kasus, guru sumber daya akan bekerja dengan anak di kelas reguler, dan bukan hanya di dalam ruang/kelas sumber daya saja.
Guru Pendidikan Khusus; beberapa guru telah memperoleh pelatihan ekstensif dalam pendidikan ksusus dan mengajar ABK dalam “kelas pendidikan khusus” yang terpisah. Guru pendidikan khusus biasanya mengemban tanggung jawab lebih besar atas ABK daripada guru sumber daya, yang biasanya membantu di kelas umum. Anak bisa belajar membaca, menulis, matematika, sains, belajar olah raga, seni atau musik dengan guru pendidikan khusus ini. Bidang paling sering ditangani guru berpendidikan khusus adalah bidang membaca, dan klasifikasi guru pendidikan khusus yang paling lazim adalah guru anak-anak yang mengalami gangguan belajar.
Pelayanan terkait; selain guru kelas reguler, guru sumber daya, dan guru pendidikan khusus, ada sejumlah personel pendidikan khusus lainnya yang memberikan pelayanan bagi ABK. Antara lain adalah asisten guru, psikolog, konselor, pekerja sosial sekolah, perawat, dokter, terapis, terapis fisik, serta spesialis guru wicara dan mendengar—seperti audiologis. Selain itu, pelayanan transportasi juga disediakan jika diperlukan.
Asisten guru terutama dapat membantu guru kelas reguler untuk memberikan instruksi khusus untuk ABK.
Psikolog bisa dilibatkan dalam menilai apakah seseorang anak mengalami gangguan atau tidak, dan psikolog juga bisa menjadi anggota tim penyusun IEP, dan mungkin juga bisa bekerjasama dengan konselor. Psikolog sekolah mungkin bisa membuat rekomendasi kepada guru tentang bagaimana ABK bisa belajar secara lebih efektif.
Pekerja sosial sekolah seringkali membantu mengkoordinasikan keluarga dan pelayanan komunitas untuk ABK.
Perawat dan Dokter bisa melakukan penilaian medis untuk ABK.
Terapis fisik dan Terapis okupasional mungkin dilibatkan dalam membantu ABK untuk memulihkan diri dari cacat fisik atau kognitif yang bisa disembuhkan.
Spesialis wicara dan Spesialis pendengaran mungkin dilibatkan ketika keahlian mereka bisa membantu keahlian ABK dalam meningkatkan kemampuan bicara dan mendengar.
Konsultasi Kolaboratif dan Tim Interaktif; dalam konsultasi kolaboratif, orang dengan berbagai keahlian akan berinteraksi untuk memberikan pelayanan bagi anak. Idealnya, konsultasi kolaboratif mendorong tanggung jawab bersama dalam perencanaan dan pembuatan keputusan. Konsultasi ini juga memampukan pendidik dengan berbagai keahlian untuk menyusun alternatif pendekatan pengajaran yang efektif. Sedangkan anggota tim interaktif adalah kalangan profesional (misalnya: spesialis pendidik, medis, administratif, vokasional, kesehatan, dan pelayanan sosial) dan orangtua yang bekerjasama untuk memberikan pelayanan langsung dan ntidak langsung kepada anak. Mereka berbagi pengetahuan dan keahliannya kepada anggota lain jika diperlukan.
3. Orangtua sebagai Mitra Pendidikan
Pendidik dan peneliti semakin mengakui pentingnya guru dan orangtua untuk bersama-sama membantu pembelajaran ABK. Individual with Disabilities Education Act (IDEA) mewajibkan partisipasi orangtua dalam pengembangan program pendidikan untuk semua ABK.
Teaching strategies Berkomunikasi dengan Orangtua ABK |
1. Beritahu kepada orangtua bahwa anda memahami dan mengapresiasi individualitas anak. Ajak mereka berbincang membahas kekuatan anak, bukan fokus pada problem si anak. Fokusnya pada aspek positif dari anak pada awal dan akhir perbincangan 2. Bersikaplah rendah hati di depan orangtua dari ABK. Adalah penting bagi anda untuk menyadari rasa sedih yang dirasakan banyak orangtua ABK. Mereka mungkin baru pertama kali menghadapi diagnosis baru atas anak mereka tau berhadapan dengan kerumitan rencana pendidikan untuk si anak. Bahaslah diagnosis itu dengan sabar dan beri harapan sewajarnya kepada anak 3. Beri informasi tentang ketidakmampuan anak mereka kepada orangtua. Setelah anak didiagnosis punya gangguan, guru harus mengajak orangtuanya untuk membicarakan arti dari diagnosis tsb 4. Bicaralah kepada orangtuanya, bukan pada si anak. Anggap setiap pertemuan dengan orangtua murid sebagai kesempatan untuk belajar lebih banyak tentang diri si anak. Kita mudah tergoda untuk bertindak sebagai penguasa dan lebih mudah terjebak memposisikan diri “di atas” orangtua ketimbang “sejajar” dengan orangtua. Anggaplah orangtua sebagai mitra yang sejajar dengan anda dan profesional lainnya dalam mendidik ABK. Dorong orangtua untuk mengajukan pertanyaan dan mengekspresikan perasaan mereka. Jika anda tidak bisa menjawab pertanyaan orangtua siswa, katakan kepada mereka bahwa anda akan mencarikan informasi untuk mereka 5. Hindari penggunaan stereotipe pada anak. Didik diri anda sendiri tentang diversitas anak dan keragaman latar belakang mereka. Jangan membuat penilaian stereotip tentang anak dan orangtuanya berdasarkan status sosioekonomi, etnis, struktur keluarga, agama, atau gender. Hubungan dan komunikasi yang baik dan efektif bisa mengurangi bias 6. Ajak orangtua untuk membangun dan menjaga komunikasi yang efektif. Katakan kepada mereka tentang pentinya bantuan mereka dan profesional sekolah lain dalam rangka mendidik anak mereka. Pastikan untuk mendukung kehadiran mereka dalam pertemuan IEP 7. Bicaralah dengan orangtua tentang bagaimana media dapat menyebarkan gambaran yang keliru tentang ABK. Majalah, koran, film, tv, dan radio kadang-kadang memberikan informasi yang tidak akurat tentang ABK. Peringatkan orangtua tentang hal ini dan katakan kepada mereka bahwa anda siap berdiskusi dengan mereka tentang apa saja yang mereka baca atau dengar yang berkaitan dengan ketidakmampuan anak |
Tehnologi:
IDEA, termasuk amandemennya pada 1997, menyatakan bahwa perangkat tehnologi bisa disediakan untuk ABK demi memastikan pendidikan yang gratis dan tepat. Ada 2 tipe tekhnologi yang dapat digunakan untuk meningkatkan pendidikan ABK, yaitu:
1. Tekhnologi pengajaran (Instruksional); berupa berbagai tipe hardware dan software, dikombinasikan dengan metode pengajaran yang inovatif, untuk mengakomodasikan kebutuhan belajar di kelas.
Tehnologi ini bisa berupa video, instruksi dengan bantuan komputer, atau program hypermedia yang kompleks dimana komputer digunakan untuk mengontrol display dari gambar dan suara yang disimpan di videodisc. Penggunaan telekomunikasi, terutama internet sangat menjanjikan bagi peningkatan pendidikan murid baik itu ABK ataupun bukan ABK.
2. Tekhnologi asistensi (bantuan); berupa beragam perangkat dan pelayanan untuk membantu ABK agar bisa berkomunikasi di lingkungan mereka. Misal: alat bantu komunikasi, keyboard komputer alternatif, dan alat adaptasi lainnya. Untuk mencari peralatan-peralatan tsb, pendidik bisa menggunakan database komputer, seperti Device Locator System.
Technology & Education Mengeksplorasi Tekhnologi Instruksi (instruksional) dan Bantuan (asistensi) |
Tekhnologi instruktif dan bantuan mencakup: Aplikasi Tradisional Aplikasi tradisional melibatkan penggunaan tutorial berbasis komputer, latihan dan permainan. Misalnya: aplikasi ini dipakai untuk meningkatkan keahlian decoding dan kosakata ABK, terutama mereka yang punya masalah dalam membaca. Software dalam bentuk game sering dipakai untuk memotivasi anak penderita ketidakmampuan ini. Aplikasi Konstruktivis Aplikasi konstruktivis difokuskan pada pemahaman murid dan ketrampilan berpikir. Misalnya: organizer kognitif, ideafisher, dan inspiration. Software prediksi kata dapat dipakai membantu anak penyandang ketidakmampuan fisik untuk menulis di komputer. Pengolah Kata Program pengolah kata (word processing) telah membantu banyak ABK untuk membuat kemajuan dalam kemampuan bahasa tulis mereka. Pengolah kata yang bisa bicara seperti, Write: Outloud, Intellitalk, Kids Works 2, dan The Amazing Writing Machine dapat sangat membantu dalam mendidik anak penyandang problem bicara. Program-program tsb bisa membaca teks dengan suara. Tekhnologi Bantuan Lain Banyak anak penyandang ketidakmampuan fisik (seperti kelumpuhan) tidak bisa menggunakan perangkat yang biasa, seperti keyboard dan mouse. Touch Screen, Touch Tablets, pointer optik, dan perangkat yang dikendalikan suara adalah alat alternatif yang bisa membuat mereka menggunakan komputer. Software atau hardware khusus seperti Closed-circuit television bisa memperbesar gambar dan teks di komputer untuk anak yang mengalami gangguan penglihatan. Printer dapat mencetak huruf braile besar-besar. Perangkat lainnya bisa men-scan 1 halaman dan menerjemahkannya ke layar, dan bisa dipakai untuk anak yang menderita gangguan penglihatan. Penyisipan kata bisa dilakukan di layar dan presentasi video lainnya sehingga anak yang mengalami gangguan pendengaran bisa membaca apa saja yang didengar oleh anak lainnya. Tekhnologi komunikasi untuk anak tuli bisa membuat anak yang mengalami gangguan pendengaran berkomunikasi dengan orang lain melalui telepon. Internet membuat ABK bisa mengakses kesempatan pendidikan di rumah. |
ANAK BERBAKAT
Definisi: Dulu, orang biasanya mengartikan “orang berbakat” sebagai orang memiliki tingkat keceordasan (IQ) yang tinggi. Namun, sekarang semakin disadari bahwa yang menentukan keberbakatan bukan hanya itelegensi (kecerdasan) melainknan juga kreativitas, dan pengiikatan diri terhadap tugas (task commitment) atau motivasi untuk berprestasi.
Hubungan Kreativitas-Intelegensi:
Teori “ambang intelegensi untuk kreativitas” dari anderson memaparkan bahwa sampai tingkat intelegensi tertentu, yang diperkirakan seputar IQ 120, ada hubungan yang erat antara intelegensi dan kreativitas. Produk kreativitas yang tinggi memerlukan tingkat intelegensi yang cukup tinggi pula. Tetapi di atas ambang intelegensi itu tidak ada korelasi yang tinggi lagi antara intelegensi dan kreativitas.
Peranan Intelegensi dan Kreativitas terhadap Prestasi Belajar
Berdasarkan hasil penelitian beberapa ahli, menemukan bahwa kelompok siswa yang tingkat kreativitasnya tinggi tidak berbeda dalam prestasi sekolah dibandingkan dengan kelompok siswa yang tingkat intelegensinya lebih tinggi.
Torrance mengajukan hipotesis bahwa daya imajinasi, rasa ingin tahu dan orisinalitas dari subjek yang kreativitasnya tinggi dapat mengimbangi kekurangan dalam daya ingatan dan faktor-faktor lain yang diukur oleh tes intelegensi tradisional.
Menurut Cropley, true giftedness (keberbakatan sejati) merupakan gabungan antara kemampuan konvensional (ingata baik, berpikir logis, pengetahuan faktual, kecermatan, dsb) dan kemampuan kreatif (menciptakan gagasan, mengenal kemungkinan alternatif, melihat kombinasi yang tidak terduga, memiliki keberanian untuk mencoba sesuatu yang tidak lazim, dsb).
Sikap Kreatif sebagai Ciri Non-Bakat (Non-Aptitude Trait) dari Kreativitas
Dalam studi-studi faktor analisis seputar ciri-ciri utama dari kreativitas, Guliford membedakan antara ciri bakat (aptitude trait) yang berhbungan dengan kreativitas. Ciri-ciri aptitude dari kreativitas (berpikir kreatif) meliputi kelancaran, kelenturan atau kleuwesan (fleksibilitas), dan orisinalitas dalam berpikir, dan ciri-ciri ini dioperasionalisasikan dalam tes berpikir divergen. Sejauh mana seseorang mampu mengahsilkan prestasi kreatif ikut ditentukan oleh ciri-ciri non-aptitude (afektif).
KEBIJAKAN
1. Kebijakan tentang Pelayanan Pendidikan Anak Berbakat
Yang dimaksud dengan istilah “anak berbakat” adalah “gifted child” atau “gifted children”. Di kepustakaan luar negeri juga banyak digunakan istilah “gifted and talented children” yang dapat diterjemahkan menjadi “anak berbakat dan bertalenta”. Garis-garis Besar Haluan Negara (GBHN) 1988 menggunakan istilah “anak berbakat istimewa”, sedangkan GBHN 1993 merujuk pada “peserta didik yang memiliki tingkat kecerdasan luar biasa”; sementara UU Republik Indonesia Nomor 2 Tahun 1989 tentang Sistem Pendidikan Nasional (UUSPN 1989) menambahkan dengan memilki kemampuan dan kecerdasan luar biasa”. Pada pasal 8 ayat (2) dinyatakan bahwa “Warga negara yang memiliki kemampuan dan kecerdasan luar biasa berhak memperoleh perhatian khusus”. Hal ini dipertegas pada Pasal 24 ayat (1) bahwa setiap peserta didik pada suatu satuan pendidikan mempunyai hak “mendapat perlakuan sesuai dengan bakat, minat dan kemampuannya”. Demikian pula GBHN 1993 dalam Bab IV khususnya tentang Pendidikan mengamanatkan bahwa “Peserta didik yang memiliki tingkat kecerdasan luar biasa perlu mendapat perhatian lebih khusus agar dapat dipacu perkembangan prestasi dan bakatnya”.
UUSPN 1989 Pasal 24 ayat (7) menyatakan secara eksplisit bahwa setiap peserta didik mempunyai hak “menyelesaikan program pendidikan lebih awal dari waktu yang ditentukan”. Dengan dasar hukum ini, pemerintah memberikan perlakuan pendidikan khusus bagi anak berbakat, yaitu dengan cara: Program Pengayaan (enrichment) dan Program Percepatan (acceleration).
Mengapa anak berbakat perlu mendapat perhatian khusus? Karena peserta didik berbeda-beda dalam bakat, minat, dan kemampuan, maka implikasinya adalah bahwa perlakuan pedidikan perlu disesuaikan dengan potensi setiap peserta didik.
Sebagaimana mereka yang tingkat kecerdasannya jauh di bawah rata-rata (tuna grahita) tidak dapat menarik manfaat sepenuhnya dari pendidikan biasa (reguler) dan memerlukan pendidikan luar biasa agar kemampuannya dapat dikembangkan secara optimal, demikian pula peserta didik dengan tingkat kemampuan intelektual jauh di atas rata-rata (anak berbakat) memerlukan perlakuan pendidikan khusus agar bakat dan potensinya yang unggul dapat diwujudkan sepenuhnya.
2. Kebijakan tentang Pengembangan Kreativitas
GBHN 1993 menekankan bahwa: “Pendidikan nasional bertujuan untuk meningkatkan kualitas manusia Indonesia, yaitu manusia yang beriman dan bertakwa terhadap Tuhan YME, berbudi pekerti luhur, berkepribadian, mandiri, maju, tangguh, cerdas, kreatif, terampil, berdisiplin, beretos kerja, profesional, bertanggung jawab, dan produktif serta sehat jasmani dan rohani”.
Dalam GBHN 1993 tsb juga menyatakan bahwa: “Pengembangan kreativitas hendaknya dimulai dari usia dini, yaitu di lingkungan keluarga sebagai tempat pendidikan pertama dan dalam pendidikan pra-sekolah. Secara eksplisit dinyatakan bahwa: pada setiap tahap perkembangan anak dan pada setiap jenjang pendidikan, mulai dari pendidikan prasekolah sampai di perguruan tinggi, kreativitas perlu dipupuk, dikembangkan, dan ditingkatkan, di samping mengembangkan kecerdasan dan ciri-ciri lain yang menunjang pembangunan.
KONSEP KREATIVITAS
1. Hubungan antara Kreativitas dan Aktualisasi Diri
Psikolog humanistik—Abraham Maslow dan Carl Rogers menyatakan bahwa: aktualisasi adalah, apabila seseorang menggunakan semua bakat dan talentanya untuk menjadi apa yang ia mampu menjadi—mengaktualisasikan atau mewujudkan potensinya.
Rogers menekankan bahwa sumber kreativitas adalah kecenderungan untuk mengaktualisasikan diri, mewujudkan potensi, dorongan untuk berkembang dan menjadi matang, kecenderungan untuk mengekspresikan dan mengaktifkan semua kemampuan organisme.
Clark Moustakas—seorang psikolog humanistik—menyatakan bahwa kreativitas adalah penglaman mengekspresikan dan mengaktualisasikan identitas individu dalam bentuk terpadu dalam hubungan dengan diri sendiri, dengan alam, dan dengan orang lain.
2. Konsep Kreativitas dengan Pendekatan 4 P
Dari 40 definisi yang beragan tentang kreativitas, Rhodes (1961) merangkum dan menyimpulkan ada 4 jenis definisi tentang kreativitas, yakni: Person, Process, Press, Product. Ke-4 P ini saling berkaitan: Pribadi kreatif (Person) yang melibatkan diri dalam Proses kreatif (Process), dan dengan dukungan dan dorongan dari lingkungan (Press), menghasilkan Produk kreatif (Product).
a) Definisi Person (Pribadi)
Menurut Hulbeck, tindakan kreatif muncul dari keunikan keseluruhan kepribadian dalam interaksi dengan lingkungannya.
Definisi (teori) mutakhir tentang kreativitas yang juga menekankan pentingnya aspek pribadi diberikan oleh Stenberg dalam Tree-facet model of creativity, yaitu: “Kreativitas merupakan titik pertemuan yang khas antara 3 atribut psikologis: intelegensi, gaya kognitif, dan kepribadian/motivasi. Secara bersamaan, ketiga segi alam pikiran ini membantu memahami apa yang melatarbelakangi individu yang kreatif”.
b) Definisi Process (Proses)
Definisi tentang proses kreatif dari Torrance pada dasarnya menyerupai langkah-langkah dalam metode ilmiah, yaitu:
“The process of (1) Sensing difficulties, problems, gaps in information, missing elements, something asked; (2) Making guesses and formulating hypotheses about these deficiencies; (3) Evaluating and testing these guesses and hypotheses; (4) Possibly revising and retesting them; and finally (5) Communicating the results”.
c) Definisi Product (Produk)
Definisi ini menekankan unsur orisinalitas, kebaruan, dan kebermaknaan.
Menurut Haefele, kreativitas adalah “kemampuan untuk membuat kombinasi-kombinasi baru yang mempunyai makna sosial”. Definisi dari Haefele ini menunjukkan bahwa tidak keseluruhan produk itu harus baru, tetapi kombinasinya yang bermakna. (misalnya: kursi dan roda sudah ada selama berabad, namun penemuan kursi roda merupakan penemuan yang kreatif).
Rogers mengemukakan kriteria untuk produk kreatif adalah:
(a) Produku itu harus nyata (observable), (b) Produk itu harus baru, (c) Produk itu adalah hasil dari kualitas unik individu dalam interaksi dengan lingkungannya.
d) Definisi Press (Pendorong)
Kategori ke-4 dari pendekatan terhadap kreativitas menekankan faktor pendorong (Press) atau dorongan, baik dorongan internal (dari diri sendiri) maupun dorongan eksternal dari lingkungan sosial dan psikologis.
Definisi dorongan internal: The initiative that one manifests by his power to break away from the usual sequences of thought.
Dorongan eksternal: Ada lingkungan yang tidak menghargai imajinasi atau fantasi, dan menekan kreativitas dan inovasi. Kreativitas juga tidak berkembang dalam kebudayaan yang terlalu menekankan konformitas dan tradisi, dan kurang terbuka terhadap perubahan atau perkembangan baru.
KOSEP KEBERBAKTAN DAN ANAK BERBAKAT
1. Definisi U.S.O.E (U.S. Office of Education) tentang Keberbakatan
Anak berbakat adalah mereka yang oleh orang-orang profesional diidentifikasi sebagai anak yang mampu mencapai prestasi yang tinggi karena mempunyai kemampuan-kemampuan yang unggul. Anak-anak tsb memerlukan program pendidikan yang berdiferensiasi dan/atau pelayanan di luar jangkauan program sekolah biasa agar dapat merealisasikan sumbangan mereka terhadap masyarakat maupun untuk mengembangkan diri sendiri.
Kemampuan-kemampuan tsb, baik secara potensial maupun yang telah nyata, meliputi:
· Kemampuan intelektual umum (kecerdasan atau intelegensi)
· Kemampuan akademik khusus
· Kemampuan berpikir kreatif-produktif
· Kemampuan memimpin
· Kemampuan dalam salah satu bidang seni
· Kemampuan psikomotor (ex: dalam olah raga)
2. Konsep Renzulli tentang Keberbakatan
Konsepsi lain tentang keberbakatan yang sampai sekarang banyak digunakan dalam identifikasi siswa berbakat di Indonesia dan dalam seleksi calon guru anak berbakat adalah dari Renzulli, yaitu teori tentang : Three-Ring Conception—yang menyatakan bahwa 3 ciri pokok yang merupakan kriteria (persyaratan) keberbakatan adalah:
a) Kemampuan umum di atas rata-rata (intelegensi);
Salah satu kesalahan dalam identifikasi anak berbakat adalah anggapan bahwa hanya kecerdasan dan kecakapan sebagaimana diukur dalam tes intelegensi dan tes prestasi belajar menentukan keberbakatan dan produktivitas kreatif seseorang. Terman—dalam penelitian longitudinalnya (jangka panjang) terhadap orang-orang berbakat, hanya menggunakan kriteria intelegensi, dalam tulisan-tulisannya di kemudian hari—mengakui bahwa intelegensi tinggi intelegensi tinggi tidak sinonim dengan keberbakatan. Wallach pun menunjukkan bahwa mencapai skor tertinggi pada tes akademis belum tentu mencerminkan potensi untuk kinerja kreatif/produktif.
Dalam istilah “kemampuan umum” tercakup berbagai bidang kemampuan yang biasanya diukur oleh tes intelegensi, prestasi, bakat, kemampuan mental primer, dan berpikir kreatif. Sebagai contoh adalah: Penalaran verbal dan numerikal, kemampuan spasial, kelancaran dalam memberikan ide, dan orisinalitas. Kemampuan umum ini merupakan salah satu tandan ciri keberbakatan di samping kreativitas dan pengikatan diri terhadap tugas.
b) Kreativitas di atas rata-rata;
Tandan ciri ke-2 yang dimiliki anak/orang berbakat adalah kreativitas—sebagai kemampuan umum untuk mencipta sesuatu yang baru; sebagai kemampuan untuk memberi gagasan-gagasan baru yang dapat diterapkan dalam pemecahan masalah; atau sebagai kemampuan untuk melihat hubungan-hubungan baru antara unsur-unsur yang sudah ada sebelumnya.
c) Pengikatan diri terhadap tugas (task commitment) yang cukup tinggi;
Tandan karakteristik ke-3 yang ditemukan pada individu yang kreatif-produktif adalah pengikatan diri terhadap tugas sebagai bentuk motivasi internal yang mendorong seseorang untuk tekun dan ulet mengerjakan tugasnya meskipun mengalami macam-macam rintangan atau hambatan, menyelesaikan tugas yang menjadi tanggungjawabnya karena ia telah mengikat dirinya terhadap tugas tsb atas kehendak dirinya sendiri.
Meskipun Galton menganut pandangan genetis untuk keberbakatan dan “genius”, namun ia percaya bahwa motivasi intrinsik dan kapasitas untuk bekerja keras merupakan kondisi yang perlu untuk mencapai prestasi unggul.
Begitu pula menurut Crutchfield—subyek yang kreatif dapat bertahan terhadap tekanan sosial karena orientasi yang lebih kuat terhadap tuntutan tugas.
3. Peranan Faktor Lingkungan dan Pembawaan untuk Keberbakatan
Faktor pembawaan/pribadi yang menentukan keberbakatan dimiliki setiap anak dalam kadar yang berbeda-beda. Czeizel (1995) menunjuk pada rumus dasar untuk genetika manusia sbb:
P = f (G, E)
Dengan P = Phenotype, ciri-ciri individu yang tampak
G = Genotype, dasar genetis (pembawaan)
E = faktor lingkungan yang dapat menumbuhkan atau menghambat genotip
Rumus ini dapat pula ditafsirkan dalam kerangka ciri-ciri mental dan kemampuan tinggi, yaitu:
P = prestasi, kinerja, produksi sosial, talenta
G = kemampuan tinggi atau keberbakatan
E = pendidikan dalam arti luas yang menantang dan memudahkan keberbakatan
Untuk mengembangkan keberbakatan yang optimal juga diperlukan rangsangan dan pembinaan dari lingkungan sosial. Keberbakatan muncul dari interaksi antara faktor pribadi dan faktor lingkungan. Persyaratan untuk interaksi yang serasi antara pibadi dan lingkungan adalah adanya kompetensi sosial pada pribadi yang bersangkutan. Lingkungan meliputi keluarga, sekolah, dan teman sebaya (peer).
Czeizel dalam tulisannya mengenai Heredity and Giftedness (1995) membuat modifikasi terhadap model Tiga Lingkaran dari Renzulli, yaitu:
a) Selain kemampuan atau intelegensi umum yang diperlukan untuk semua aktifitas sosial, diperlukan pula kemampuan mental khusus yang menentukan pilihan profesi. Kemampuan mental khusus yang superior merupakan dasar dari macam-macam jenis kemampuan tinggi atau talenta.
b) Keempat kemampuan pribadi tsb di atas merupakan kemampuan yang ditentukan oleh komponen genetik (hereditas) dengan proporsi yang berbeda-beda, dan berinteraksi dengan faktor lingkungan yaitu keluarga, sekolah, kelompok sebaya, dan faktor sosial-budaya.
c) Faktor lain yang dipertimbangkan adalah faktor “keberuntungan” (good luck)dan faktor “kesehatan”.
MEMOTIVASI ANAK UNTUK BELAJAR
Telah dikemukakan di atas bahwa keberbakatan mensyaratkan keterkaitan antar 3 faktor pribadi, yaitu kemampuan umum (intelegensi), kreativitas, dan motivasi atau pengikatan diri terhadap tugas (task commitment). Banyak anak yang mempunyai potensi intelektual dan kreativitas tinggi tidak berprestasi sesuai dengan potensi unggulnya (underachiever) karena kurang motivasi untuk belajar.
Berikut ini adalah hal-hal yang perlu diperhatikan dan diupayakan oleh orangtua untuk memotivasi anak untuk belajar:
a) Ajarkan anak untuk mengharapkan kberhasilan. Jika orangtua mengharapkan lebih banyak dari anak, anak juga akan mengharapkan lebih dari dirinya sendiri.
b) Sesuaikan pendidikan anak dengan minat dan gaya belajarnya. Anak tidak termotivasi untuk belajar jika tidak ada hubungan antara bahan pelajaran dan masalah-masalah yang mereka hadapi dalam kehidupan sehari-hari. Bahan pelajaran baru betul-betul dipelajari jika siswa mengalaminya sebagai sesuatu yang berarti.
c) Anak harus belajar bahwa diperlukan keuletan untuk menkcapai keberhasilan. Anak harus belajar tidak hanya untuk melakukan hal yang mudah dan yang disukai, tetapi juga kegiatan yang memaksa mereka bekerja sekuat tenaga. Anak harus belajar untuk tekun melanjutkan meskipun sulit. Dengan demikian mereka sebagai orang dewasa dapat bertahan dari rasa frustasi dan pekerjaan yang mungkin kurang menantang.
d) Anak harus belajar menghadapi kegagalan. Keberhasilan akan dicapai anak jika ia belajar menerima kegagalan sebagai tantangan untuk terus melanjutkan pekerjaan.
DAMPAK SIKAP ORANGTUA TERHADAP KREATIVITAS ANAK
1. Beberapa Faktor Penentu
Sudah lebih 30 tahun pakar psikologi menemukan bahwa sikap dan nilai orangtua berkaitan erat dengan kreativitas anak. Berikut ini adalah sikap-sikap orangtua yang menentukan tingkat kreativitas anak:
a) Kebebasan (pola asuh demokratis)
b) Menghargai keunikan anak
c) Kedekatan emosi yang sedang
d) Prestasi, bukan angka
e) Orangtua aktif dan mandiri (sebagai contoh bagi anak)
f) Menghargai kreativitas
2. Sikap Orangtua yang Mendukung dan Tidak Menunjang Pengembangan Kreativitas Anak
Dari berbagai penelitian diperoleh hasil bahwa sikap orangtua yang memupuk kreativitas anak adalah:
a) Menghargai pendapat anak dan mendorongnya untuk mengungkapkannya
b) Memberi waktu kepada anak untuk berpikir, merenung, dan berkhayal
c) Memperbolehkan anak mengambil keputusan sendiri
d) Mendorong rasa ingin tahu anak, untuk menjajaki dan mempertanyakan hal-hal
e) Meyakinkan anak bahwa orangtua menghargai apa yang ingin dicoba lakukan, dan apa yang dihasilkan
f) Menunjang dan mendorong kegiatan anak
g) Menikmati waktu kebersamaan dengan anak
h) Memberi pujian yang sungguh-sungguh/tulus kepada anak
i) Mendorong kemandirian anak dalam bekerja
j) Menjalin hubungan kerjasama yang baik dengan anak
Adapun sikap yangtidak menunjang pengembangan kreativitas anak adalah sbb:
a) Mengatakan kepada anak bahwa ia dihukum jika berbuat salah
b) Tidak memperbolehkan anak marah kepada orangtua
c) Tidak memperbolehkan anak untuk mempertannyakan keputusan orangtua
d) Tidak memperbolehkan anak bermain dengan anak dari keluarga yang mempunyai pandangan dan nilai yang berbeda dari keluarga anak
e) Anak tidak boleh berisik
f) Orangtua terlalu ketat mengawasi kegiatan anak
g) Orangtua memberi saran-saran spesifik tentang penyelesaian tugas
h) Orangtua kritis terhadap anak dan menolak gagasan anak
i) Orangtua tidak sabar terhadap anak
j) Orangtua dan anak adu kekuasaan
k) Orangtua menekan dan memaksa anak untuk menyelesaikan tugas