Minggu, 23 Oktober 2011

Teori Kepribadian A. Adler

Pokok-Pokok Teori Adler

Individualitas sebagai pokok persoalan

Adler memberi tekanan kepada pentingnya sifat khas (unik) kepribadian, yaitu individualitas, kebetulan serta sifat-sifat pribadi manusia. Menurut Adler tiap orang adalah suatu kongfigurasi motif-motif, sifat-sifat, serta nilai-nilai yang khas; tiap tindak yang dilakukan oleh seseorang membawakan corak yang khas gaya kehidupannya yang bersifat individual.

Pandangan Teleologis: Finalisme Semu

Vaihinger mengemukakan, bahwa setiap manusia hidup dengan berbagai macam cita-cita atau pikiran yang semata-mata bersifat semu, yang tidak ada buktinya atau pasangannya yang realitas.

Dua Dorongan Pokok

Di dalam diri manusia terdapat dua dorongan pokok, yang mendorong serta melatarbelakangi segala tingkah lakunya, yaitu :

Dorongan kemasyarakatan yang mendorong manusia bertindak yang mengabdi kepada masyarakat; dan

Dorongan keakuan, yang mendorong manusia bertindak yang mengabdi kepada aku sendiri.

Rasa Rendah Diri dan Kompensasi

Adler berpendapat, bahwa rasa rendah diri itu bukanlah suatu pertanda ketidak normalan; melainkan justru merupakan pendorong bagi segala perbaikan dalam kehidupan manusia. Tentu saja dapat juga rasa rendah diri itu berlebihan sehingga manifestasinya juga tidak normal, misalnya timbulnya kompleks rendah diri atau kompleks untuk superior. Tetapi dalam keadaan normal rasa rendah diri itu merupakan pendorong kearah kemajuan atau kesempurnaan (superior).

Dorongan Kemasyarakatan

Dorongan kemasyarakatan itu adalah dasar yang dibawa sejak lahir; pada dasarnya manusia adalh mahluk sosial. Namun sebagaimana lain-lain kemungkinan bawaan, kemungkinan mengabdi kepada masyarakat itu tidak nampak secara spontan, melainkan harus dibimbing atau dilatih.

Gambaran tentang manusia sempurna hidup dalam masyarakat sempurna menggantikan gambaran manusia kuat, agresif dan menguasai serta memeras masyarakat.

“Dorongan untuk berkuasa, memainkan peranan terpenting dalam perkembangan kepribadian” ( Adler, 1946, p. 145.)

Gaya Hidup

Gaya hidup ini adalah prinsip yang dipakai landasan untuk memahami tingkah laku seseorang; inilah yang melatarbelakangi sifat khas seseorang.

Gaya hidup seseorang itu telah terbentuk antara umur tiga sampai lima tahun, dan selanjutnya segala pengalaman dihadapi serta diasimilasikan sesuai dengan gaya hidup yang khas itu.

Diri yang Kreatif

Diri yang kreatifitas adalah penggerak utama, pegangan filsafat, sebab pertama bagi semua tingkah laku. Sukarnya menjelaskan soal ini ialah karena orang tidak dapat menyaksikan secara langsung akan tetapi hanya dapat menyaksikan lewat manifestasinya.

Mengatasi Inferioritas dan Menjadi Superioritas:

Dorongan Maju.

Bagi Adler, kehidupan manusia dimotivasi oleh atau dorongan utama-dorongan untuk mengatasi perasaan inferior dan menjadi superior. Jadi tingkah laku ditentukan utamanya oleh pandangan mengenai masa depan, tujuan, dan harapan kita. Didorong oleh perasaan inferior, dan ditarik keinginan menjadi superior, maka orang mencoba untuk hidup sesempurna mungkin.

Inferiorta bagi Adler berarti perasaan lemah dan tidak terampil dalam menghadapi tugas yang harus diselesaikan. Bukan rendah diri terhadap orang lain dalam pengertian yang umum, walakupun ada unsur membandingkan kemampuan khusus diri dengan kemampuan orang lain yang lebih matang dan berpengalaman. Superiorita, pengertiannya mirip dengan trandensi sebagai awal realisasi diri dari Jung, atau aktualisasi dari Horney dan Maslow. Superiorita bukan lebih baik dibanding orang lain atau mengalahkan orang lain, tetapi berjuang menuju superiorita berarti terus menerus berusaha menjadi lebih baik-menjadi semakin dekat dengan tujuan final.

Perasaan inferioritas ada pada semua orang, karena manusia mulai hidup sebagai mahluk kecil dan lemah. Sepanjang hidup, perasaan iri terus muncul ketika orang menghadapi tugas baru dan belum dikenal yang harus diselesaikan.

Banyak orang yang berjuang menjadi superioritas dengan tidak memperhatikan orang lain. Tujuannya bersifat pribadi, dan perjuangannya dimotivasi oleh perasaan diri inferior yang berlebihan. Pembunuh, pencuri, pemain porno adalah contoh ekstrim yang berjuang hanya untuk mencapai keuntungan pribadi. Namun pada umumnya perbuatan atau perjuangan menjadi superior sukar dibedakan, mana yang motivasinya untuk keuntungan pribadi dan mana yang motivasinya minat sosial. Orang yang secara psikologi sehat, mampu meninggalkan perjuangan menguntungkan diri sendiri menjadi perjuangan yang termotivasi oleh minat sosial, perjuangan untuk menyukseskan nilai-nilai kemanusiaan. Orang ini membantu orang lain tanpa mengharap imbalan, melihat orang lain bukan sebagai saingannya akan tetapi sebagai rekan yang siap bekerjasama demi kepentingan sosial.

Kesatuan (Unity) Kepribadian

Adler memilih psikologi individu (individual psychology) dengan harapan dapat menekankan keyakinannya bahwa setiap manusia itu unik dan tidak dapat dipecah-pecahkan. Psikologi individual menekankan pentingnya unitas kepribadian. Pikiran, perasaan, dan kegiatan semuanya diarahkan kesatu tujuan tunggal dan mengejar satu tujuan.

Gaya Hidup

Adler juga dipengaruhi oleh Jan Smuts, filosofi dan negarawan Afrika Selatan. Menurut Smuts, kalaku ingin memahami orang lain, kita harus memahami dia dalam kesatuan yang utuh, bukan dalam bentuk yang terpisah-pisah, dan yang lebih penting lagi, kita harus memahaminya sesuai dengan konteks keadaan yang melatari orang tersebut, baik fisik maupun sosial.

Kepentingan Sosial

Adler menganggap kepekaan sosial ini bukan sekedar bawaan sejak lahir dan bukan pula diperoleh hanya dengan cara dipelajari, melainkan gabungan keduanya. Kepekaan sosial didasarkan pada sifat-sifat bawaan dan dikembangkan lebih lanjut agar tetap bertahan.

Di lain pihak, bagi Adler, tidak ada kesadaran sosial adalah sakit jiwa yang sesungguhnya. Segala bentuk sakit jiwa-neurotik, psikotik, tindak kriminal, narkoba, kenakalan remaja, bunuh diri, kemiskinan, prostitusi, dan lain-lain sebagainya- adalah penyakit-penyakit yang lahir akibat tidak adanya kesadaran sosial. Tujuan orang-orang yang mengidap penyakit ini adalah superioritas personal, keberhasilan dan kemenangan hanya berarti untuk mereka sendiri.

Kamis, 27 Januari 2011

BEHAVIORISME

Refleksiologi Rusia dan Dominasinya di Uni Soviet
Tokoh-tokoh:
Ivan Mikhailovich Sechenov
Pada tahun 1863, Sechenov mempublikasikan Reflexes of the Brain, berisi hipotesisnya bahwa semua aktivitas, termasuk proses-proses yang tampak rumit seperti berpikir dan bahasa, dapat direduksi menjadi refleks-refleks. Sechenov yakin bahwa semua aktivitas intelektual, serta aktivitas motorik, melibatkan stimulasi eksternal. Dia mereduksi respon-respon psikis dan fisiologis menjadi refleks-refleks sehingga ide-ide menjadi asosiasi refleks-refleks yang dimediasi oleh sistem saraf pusat. Dengan demikian, pendiri pendiri fisiologi Rusia modern mengartikan refleksologi sebagai interpretasi monistik aktivitas manusia, yang menyamakan proses-proses saraf yang esensial. Sechenov memulai tradisi eksperimental untuk mengupayakan validasi atas pandangannya tentang refleksologi.
Vladimir Mikhcilovich Bekhterev
proses psikologis dan fisiologis melibatkan energi saraf yang sama, dan refleks-refleks yang dapat diamati, baik bersifat bawaan maupun dipelajari, diatur oleh hubungan yang dilandasi hukum tertentu dengan stimulasi internal dan eksternal.
Ivan Petrovich Pavlov
Pavlov menemukan prinsip-prinsip penting pengkondisian asosiatif—dan hal inilah yang dikenang darinya hingga saat ini. Pavlov menciptakan suatu alat yang ditanam dalam pipi anjing yang menjadi subjeknya yang mengumpulkan air liur sebagai pengukuran proses-proses pencernaan yang diteliti. Dalam eksperimennya, Pavlov mencermati bahwa subyek berulang kali berliur menjelang diberi makanan, yang ditunjukkan dengan mendekatnya seorang eksperimenter yang membawa piring makanan.
Keneksionisme Amerika: Thorndike
Thorndike meneliti strategi pemecahan masalah dengan berbagai spesies, dengan menggunakan kotak-kotak teka-teki, dengan bermacam ruang dirancang untuk memberikan hadiah respon-respon spesifik. Ada dua perbedaan antara pandangan Thorndike dengang Pavlov; Pertama: situasi pembelajaran berada di bawah kontrol subyek dalam prosedur Torndike—yaitu subyek harus memberikan suatu respon sebelum menerima hadiah. Kedua: Thorndike memiliki Hukum Efek atau pengaruh penguatan—yang mana memerlukan pemahaman subyek terhadap subyek terhadap konsekuensi peristiwa yang menguatkan.
Behaviorisme Watsonian
Pandangan-pandangan Watson berpusat pada premis bahwa wilayah psikologi adalah perilaku, yang diukur sebagai stimulus dan respon, sejalan dengan itu, psikologi berurusan dengan elemen-elemen periferal stimulus dan respon yang menggerakkan makhluk hidup. Setiap respon ditentukan oleh stimulus, sehingga perilaku dapat dianalisis secara lengkap melului hubungan kausal antara elemen-elemen stimulus dan respon. Watson tidak mengabaikan kemungkinan eksistensi kondisi mental sentral—seperti kesadaran—namun meyakini bahwa karena kondisi sentral semacam itu bersifat nonfisik dan tidak dapat dipelajari secara ilmiah, yang mana hal tsb merupakan masalah semu psikologi.
Para Behavioris Awal di Amerika
Tokoh-tokoh:
Edwin B Holt
Edwin B Holt memiliki kontribusi yang besar bagi Behariorisme, yakni dia memasukkan konsep tujuan atau motivasi dalam perilaku sehingga terbentuk sistem yang lebih lengkap. Holt menilik pada model-model psikologi lainnya yang menekankan prinsip-prinsip motivasional, seperti psikodinamika Freudian dan teori-teori dorongan instingual, untuk mengkaji bagaimana pandangan-pandangan tsb dapat memberikan konteks yang lebih holistik bagi behaviorisme.
Albert P Weiss
Weiss menyimpulkan bahwa psikologi paling baik dipahami sebagai suatu interaksi biososial; yakni semua variabel psikologis dapat direduksi menjadi level-level fisikokimiawi atau sosial.
Walter S Hunter
Beberapa tugas behavioral yang dikembangkan dari penelitian eksperimentalnya, seperti respon tertunda dan perilaku alternasi ganda, diasumsikan mewakili pemecahan masalah tingkat tinggi dan tetap digunakan hingga kini.
Perluasan refleksologi
Sejak berakhirnya Perang Dunia II, refleksologi Rusia telah bergerak jauh melampau studi tentang asosiasi terkondisi. Seorang tokoh bernama L.S Vygotsky mengusulkan penerapan penuh tekhnologi ilmiah untuk lebih memperbaiki individu dan masyarakat, oleh karena itu Vygotsky memperluas refleksiologi Pavlov ke fungsi-fungsi mental yang lebih tinggi. Berbagai studi tentang neurofisiologi pengkondisian terus berlanjut di Rusia. Fokus utama refleksiologi kontemporer di Rusia adalah tema berkelanjutan tentang basis tunggal dan materialistik peristiwa psikologis. Fisikalisme semacam itu, yang sangat bertentangan dengan struktur idealistik atau mentalis, tercermin dalam penekanan pada pengukuran mekanisme saraf, terutama melalui pencatatan elektrofisiologis.
Para Behavioris Amerika
Tokoh-tokoh:
Guthrie; Teori Kontinguitas
Kunci teori asosiasitik Guthrie terletak dalam prinsip tunggal bahwa kontinguitas merupakan fondasi pembelajaran. Dia berpendapat bahwa pembelajaran adalah suatu pola atau rantai gerakan-gerakan yang terpisah yang ditimbulkan oleh sinyal-sinyal stimulus lingkungan dan internal.
Clark L Hull; Teori Hipotetikodeduktif
Sebagai seorang behavioris, Hull memusatkan pandangan-pandangan psikologinya pada pembentukan kebiasaan, suatu akumulasi pengalaman untuk adaptasi yang efektif. Memahami pentingnya observasi dan eksperimentasi, ia mendukung struktur hipotetikodeduktif untuk memandu penelitian. Dalam strategi ini, ia mengikuti pendekatan geometri Euclidian, suatu prinsip atau formulasi perilaku pertama-tama dideduksi dari teori dan kemudian diuji secara cermat. Pada intinya, teori pembelajaran Hull berpusat pada pentingnya penguatan, yang diartikan sebagai reduksi dorongan yang timbul dari kondisi motivasional.
Tolman; Behaviorisme Kognitif
Tolman menggunakan konsep isomorfisme mental untuk menggambarkan produk sentral opembelajaran sebagai akuisisi peta lapangan yang terdapat dalam otak sebagai cerminan kognitif lingkungan yang dipelajari. Dalam eksperimennya; pembelajaran jalan berliku (maze) pada tikus, ia menggambarkan akuisisi pembelajaran tempat, menyimpulkan terjadinya akuisisi hubungan atau peta kognitif pada subyek. Sama dengan itu, ia mendemonstrasikan ekspektansi terhadap penguatan pada tikus yang terlatih untuk memperoleh satu jenis hadiah kemudian beralih pada makanan yang lebih menarik. Terakhir, ia menunjukkan bahwa pembelajaran laten terjadi pada tikus, mengindikasikan bahwa kualitas penguatan dapat menghasilkan efek yang berbeda pada tingkat-tingkat kinerja. Dalam semua eksperimen tsb Tolman menggunakan penjelasan kognitif sebagai variabel-variabel antara untuk menunjukkan bahwa perilaku pada organisme diatur oleh proses-proses mediasi sentral yang lebih dari sekedar input lingkungan.
Skinner; Positivisme Radikal
Skinner menggunakan data eksperimentalnya untuk mengajukan pendapat bahwa perilaku adalah sesuatu yang dikontrol, dan peran utama psikolog adalah menentukan parameter-parameter kontrol yang efektif bagi implikasi-implikasi sosial yang sesuai.

PENYESUAIAN PERAN SEKS DAN BAHAYA PERSONAL & SOSIAL PADA MASA DEWASA DINI

A. PENYESUAIAN PERAN SEKS MASA DEWASA DINI

Penyesuaian peran seks pada masa dewasa dini sejauh ini masih sulit. Sebelum masa remaja berakhir, sebenarnya anak laki-laki dan perempuan telah menyadari pembagian peran yang disepakati oleh masyarakat, tetapi belum tentu mereka mau menerima sepenuhnya. Banyak gadis remaja ingin berperan sebagai ibu dan isteri yang baik saat dewasa nanti, akan tetapi setelah dewasa mereka tidak mau menjadi isteri yang tunduk pada suami, mengerjakan tugas-tugas rumah tangga, dan hanya memiliki sedikit minat dan kegiatan luar (sesuai pengertian tradisional). Alasan mereka dijelaskan oleh Arnoto dan Bengston.

Peran “pengatur rumah tangga” (“homemaker”) kurang dihargai di Amerika Serikat dimana pekerjaan menjadi kunci untuk menentukan status suatu peran, dan prestasi dan kekayaan cenderung dijadikan patokan untuk menentukan peringkat sosial. Dalam masyarakat Amerika masa kini wanita cenderung menyerap nilai-nilai yang dianut para pria yang duduk bersama-sama mereka di bangku sekolah. Mereka menjadikan pria-pria ini acuan dalam membandingkan penghargaan dan imbalan untuk peran-peran tertentu. Wanita berpendidikan yang berperan sebagai ‘pengelola rumah tangga saja’ merasa dipojokkan dalam distribusi status sosial. Peran sebagai ‘pengelola rumah tangga-plus’ (seperti bekerja di luar rumah disamping mengerjakan tugas-tugas rumah tangga) mungkin akan membawa penghargaan sosial yang lebih besar.

Banyak wanita muda saat ini, mengharapkan perkawinan atas dasar persamaan hak. Dalam hal ini terjadi pergeseran dalam pola kehidupan orang dewasa. Lambat laun konsep tradisional, yang merupakan konsep peran seks dewasa, termodifikasi atau bahkan tergantikan konsepnya dengan konsep baru, yaitu konsep peran seks egalitarian. Konsep ini lebih menekankan persamaan antara pria dan wanita.

Konsep Peran Seks Dewasa :
1.Konsep Tradisional
^Tidak memperhitungkan minat dan kemampuan individual.
^Peran peran ini menekankan superioritas maskulin dan tidak tolerir pada setiap pekerjaan yang memberi kesan kewanitaan.
Pria
Di rumah: pencari nafkah,pembuat keputusan, penasehat dan tokoh yang mendisiplin anak-anak,serta menjadi model maskulinitas
bagi putera-puteranya.
Di luar rumah: pria menduduki posisi yang berwenang dan berprestise dalam dunia bisnis.
Wanita
Peran wanita disini berorientasi pada pengabdian terhadap orang lain. Wanita tidak diharapkan bekerja di luar rumah, jikalau pun wanita harus bekerja, biasanya dalam bidang pelayanan seperti perawat, dan guru.

2.Konsep Egalitarian
^Konsep egalitarian atau persamaan derajat menekankan individualitas dan persamaan derajat antara pria dan wanita.
Pria
Baik dirumah maupun di luar rumah, pria dapat bekerja sama dengan isterinya.
Dan ia pun tak merasa malu jika isterinya mempunyai pekerjaan yang lebih besar
penghasilannya dan berprestise darinya.
Wanita
Di rumah maupun di luar rumah, wanita mempunyai kesempatan untuk
mengaktualisasikan potensi serta pendidikannya.

Banyak wanita muda menyadari bahwa prestise (prestige : pengaruh,reputasi) yang rendah adalah dikaitkan dengan peran tradisional seorang isteri dan ibu, maka motivasi mereka untuk belajar peran ini rendah. Apabila mereka menjadi isteri dan ibu, mereka mengerti bahwa kecil kemungkinannya untuk membebaskan diri dari peran sebagai ibu untuk memainkan peran lain yang secara pribadi lebih memuaskan dan bermanfaat.

B. BAHAYA PERSONAL DAN SOSIAL PADA MASA DEWASA DINI

Berbagai bahaya yang bersifat personal dan sosial pada masa dewasa dini berasal dari kegagalan untuk menguasai beberapa tugas perkembangan yang penting pada usia tersebut.
Kegagalan dalam menguasai tugas-tugas perkembangan masa dewasa dini yang mengakibatkan kegagalan memenuhi harapan sosial dalam berbagai aspek perilaku mempengaruhi penyesuaian pribadi dan sosial seseorang.
Rintangan yang dapat menghambat penguasaan tugas perkembangan pada masa dewasa awal, diantaranya ialah:
1. Dasar yang Kurang Memadai
2. Hambatan Fisik
3. Latihan yang Tidak Runtut
4. Perlindungan yang Berlebihan
5. Pengaruh Kelompok Teman Sebaya yang Berkepanjangan
6. Aspirasi yang Tidak Realistik
Beberapa bahaya terhadap penyesuaian diri dan sosial yang sangat umum dan sering muncul selama tahun-tahun awal akil balik. Sementara semua orang dewasa tidak perlu mengalami semua bahaya ini, kebanyakan dari bahaya tersebut akan dialami pada suatu ketika oleh mayoritas orang dewasa muda.
Berbagai bahaya personal maupun sosial yang terdapat pada masa dewasa dini, yaitu:

1. Bahaya Fisik

Bahaya fisik yang terjadi pada masa dewasa dini juga tidak jauh berbeda dengan bahaya fisik pada masa kanak-kanak atau remaja.

Bahaya fisik tersebut diantaranya ialah:
a. Cacat fisik
b. Kesehatan badan
c. Penampilan yang kurang menarik

Akibat dari bahaya fisik ini adalah datangnya perasaan frustasi dan ketidak percayaan diri. Selain itu, bahaya fisik ini pun dapat mempersulit seseorang dalam menyesuaikan diri dengan kehidupan sosial.


2. Bahaya Keagamaan

Dua hambatan keagamaan yang terjadi pada masa dewasa dini yaitu:
a. Penyesuaian diri pada suatu agama baru sebagai pengganti agama keluarga di masa kanak-kanak
b. Tekanan dari sanak saudara suami atau isteri untuk memeluk agama mereka dalam perkawinan campuran.

Hambatan atau bahaya ini dapat mengganggu keadaan emosional individu pada masa dewasa awal.

3. Bahaya Sosial
Banyak orang pada masa dewasa awal mengalami hambatan yang sifatnya sosial. Tiga diantaranya adalah yang umum terjadi pada masa dewasa awal, yaitu:
a. Hambatan untuk bergabung dengan kelompok siosial tertentu yang cocok.
b. Rasa tidak puas dengan peran yang yang harus dimainkan dalam memenuhi harapan kelompok
c. Mobilitas sosial yang mengharuskan mereka untuk menyesuaikan dengan lingkungan baru.


4. Bahaya Peran Seks

Pada masa dewasa dini, seorang wanita cenderung untuk merasa lelah dan terpetangkap dengan apa yang sedang dihadapinya
sebagai seorang ibu rumah tangga. Dia harus mengurusi segalanya di rumah serta mengalami konflik mendahulukan karier suami.

Referensi
Hurlock, Elizabeth B. (1980). Development Psychology A Life-Span Approach. New York: McGraw-Hill.

WAWANCARA

ASPEK-ASPEK YANG BISA DIUNGKAP DALAM WAWANCARA PENDIDIKAN

1.ADAPTABILITY
Kemampuan menyesuaikan diri dengan tugas dan lingkungan baru secara cepat dan tepat, Menyesuaikan dengan efektif terhadap struktur tugas, prosedur, proses atau budaya kerja yang baru.

2.APPLIED & CONTINUES LEARNING
Memanfaatkan informasi terbaru yang berkaitan dengan tugas secara tepat , mau belajar secara terus menerus

3.INITIATING ACTION
Mengambil tindakan nyata untuk mencapai tujuan, bersikap proaktif

4.ACHIEVEMENT ORIENTATION
Dorongan untuk maju / berprestasi. Bekerja sebaik mungkin. Di mana setiap standard kerja selalu terukur dan memiliki target yang jelas.

5.STRESS TOLERANCE
Kemampuan menjaga stabilitas kinerja walau kondisi kerja under stress ( tekanan waktu, ketidak pastian), mengatasi stress dengan cara yang bisa diterima oleh orang lain dan organisasi

6.COMMUNICATION
Menyampaikan informasi dan ide secara jelas melalui berbagai media pada individu atau kelompok hadirin dan membantu mereka untuk mengerti dan mengingat pesan yang disampaikan

7.CONTRIBUTING TO TEAM SUCCESS
Aktif berpartisipasi sebagai anggota kelompok agar team dapat mencapai tujuannya

8.INTERPERSONAL UNDERSTANDING
Membangun pengertian terhadap karakter, minat dan kebutuhan orang lain serta melakukan tindakan yang tepat untuk meresponnya

9.CUSTOMER FOCUS
Secara konsisten menggali kebutuhan customer, membangun interaksi yang efektif dengan customer untuk mencapai transaksi yang saling menguntungkan dan memuaskan

10.PLANNING & ORGANIZING
Membuat pendekatan yang sistematis untuk mengindentifikasi masalah, mengambil prioritas pemecahan masalah, dan memonitor proses implementasi guna mencapai sasaran yang telah ditentukan

11.PRESENTATION SKILL
Menggunakan gaya dan teknik pembelajaran yang efektif, mampu mentransfer knowledge sesuai dengan gaya belajar setiap siswa

12.EVALUATION SKILL
Menerapkan prosedur evaluasi pembelajaran untuk mereview hasil pembelajaran secara efektif, ada system evaluasi yang efektif dan dilakukan secara regular

13.MENTORING SKILL
Memperhatikan dan mengarahkan siswa/mhs dan orang lain untuk mencapai prestasi belajar yang maksimal

Selasa, 25 Januari 2011

psikologi komunitas

Terjadi kebakaran di sebuah komplek perumahan yang bermula dari sebuah petasan milik seorang anak berusia 5 tahun. Anak tersebut merupakan anak dari penghuni salah satu rumah dikomplek tersebut. Kebakaran ini dikarenakan anak tersebut menyalakan petasan dikamarnya. Petasan yang dinyalakan secara tidak sengaja jatuh di atas tempat tidur. Karena takut melihat api yang semakin lama membesar, anak tersebut bersembunyi. Pada saat itu, penghuni rumah (orang tuanya) sedang bekerja dan ia sedang bersama neneknya. Neneknya yang selalu menungguinya berada di luar rumah sedang bercakap-cakap dengan tetangga.
Sementara itu, api dari kamar tersebut semakin lama semakin merembet dan mengeluarkan asap sehingga diketahui oleh para tetangga. Tetangga sekitar mencoba untuk memadamkan api dengan cara bergotong-royong menyiram dengan air yang berada disekitar rumah tersebut. Selain itu mereka juga mencoba untuk mencari anak penghuni rumah yang tadinya terlihat bermain yang ternyata ditemukan di dalam kamar mandi dalam keadaan ketakutan.
Akan tetapi karena mayoritas penghuni komplek perumahan tersebut kebanyakan ibu rumah tangga yang pada siang hari ditinggal kerja oleh suaminya, maka terlihat dari kerja keras mereka tidak membuahkan hasil. Hingga sampai mobil pemadam kebakaran dating pun api tak kunjung padam. Hal ini mengakibatkan tidak hanya sebagian barang dari rumah tersebut yang terbakar tetapi juga barang – barang rumah tetangga disekitarnya.
1.Masalah ini timbul karena kelalaian orang tua dalam mendidik anaknya. Anak berusia 5 tahun seharusnya sudah dapat mengerti apa-apa saja yang dapat membahayakan bagi dirinya. Pengertian-pengertian akan hal ini seharusnya sudah diberikan meskipun dalam bahasa yang sederhana. Selain itu kesalahan yang lain, pada usia tersebut merupakan usia dimana anak sedang aktif dalam dunia permainan tidak seharusnya dipantau dan dijaga oleh seorang nenek yang pengawasannya memiliki keterbatasan.
Oleh karena itu, komunitas tersebut (dalam hal ini keluarga) perlu adanya perubahan sosial, yaitu perubahan sosial yang ke arah positif. Perubahan sosial ini penting guna meningkatkan kesadaran akan komunitas. Dari segi positif, perubahan sosial itu penting agar hubungan yang terjalin dalam komunitas tetap harmonis dan komunitas itu dapat menjalankan interaksinya seperti semula. Bentuk konkritnya adalah perubahan sosial dapat dimulai dari menata individu yang berada dalam suatu komunitas tersebut dengan cara sadar akan adanya tanggung jawab yang harus diemban oleh tiap-tiap individu. Misalnya dalam komunitas ini:
Orang tua penting bagi dirinya untuk mendidik pada anaknya tentang apa-apa yang membahayakan bagi dirinya, memberikan pengawasan yang lebih pada anak usia tersebut, maka orang tua tidaklah melepas tanggung jawab yang sedemikian itu terhadap neneknya.

2.Ketika telah timbul masalah seperti ini, yang harus dilakukan ialah menciptakan dan mempertahankan perubahan sosial yang meliputi :
a.Partisipasi warga : dengan adanya masalah ini, timbullah rasa empati, peduli akan musibah orang lain, gotong-royong, dan sehingga kebersamaan ini merupakan awal untuk membangun sebuah komunitas yang sehat.
b.Networking : hubungan akan menjadi lebih erat jika kebersamaan ini tetap berangsur-angsur dilakukan secara rutin.
Terciptanya perubahan sosial ini dikarenakan adanya kebersamaan. Kebersamaan ini merupakan awal mula terbangunnya gotong-royong dalam komunitas tersebut dan untuk mempertahankannya diperlukan adanya networking. Networking ini dilakukan secara rutin misalnya dalam bentuk antar suami-istri saling menjaga keamanan anak mereka, saling mengingatkan mana yang baik dan mana yang buruk, saling bekerja sama antar sesama orang tua, saling mengawasi antar anak tetangga, saling memiliki rasa tanggung jawab yang tinggi terhadap perkembangan komunitas dalam bentuk kesadaran yang dibangun guna memberi pengertian akan pentingnya kerjasama, masyarakat setempat dapat mengelola layanan desa siaga dengan sebaik-baiknya.

3.Saat ada masalah seperti ini, agar komunitas tersebut tetap survive(bertahan) dimulai dari individu yang sehat. Individu yang sehat adalah individu yang dapat mengatasi stres terhadap masalah yang sedang dialaminya. Individu disini digambarkan orang tua dari anak tersebut. Pada masalah di atas, individu mengalami keadaan yang sangat menekan dirinya karena sebagian dari harta benda mereka habis dilalap api karena sesuatu hal yang konyol. Selain itu tetangganya yang bernasib sama juga mengalami hal yang serupa. Untuk mengatasi masalah ini, setiap individu mempunyai cara yang berbeda dalam mengatasi masalah. Misalnya, ketika rumahnya dilalap api, orang tua dari anak tersebut tidak begitu panik ketimbang tetangganya yang marah-marah dan menyalahkan orang lain akan musibah itu. Pada dasarnya individu itu dapat mengatasi masalahnya dengan baik jika :
a.Ia mengetahui kondisinya saat ini yang sedang dalam masalah. Dia harus bisa memprediksi apa yang seharusnya ia lakukan sehingga ia masih dapat melaksanakan tugas kehidupan sehari-hari.
b.Ia harus sehat secara mental agar dia dapat memikirkan masalahnya
c.Setelah tahu mengenai potensi dirinya, diharapkan ia dapat bertanggung jawab terhadap dirinya,dan orang lain termasuk keluarganya.
d.Mampu mengubah persepsi yang menganggap masalah ini sebagai rintangan yang tidak untuk diratapi melainkan dihadapi. Dan diharapkan kita termotivasi untuk menyelesaikan masalah ini.
Sehingga, dari pemaparan diatas yang harus dilakukan oleh individu tersebut agar stress terhadap masalahnya berkurang : menenangkan diri dengan cara memberikan pengertian terhadap dirinya mengenai masalah yang sedang dialaminya. Tidak selamanya orang itu akan hidup senang, kadang kala juga diberi cobaan oleh-Nya. Sehingga kita harus tetap tabah menjalani semua ini. Ketika kita telah mengerti dan merasakan ketenangan itu, maka kita diharapkan mampu untuk bangkit dalam keadaan seperti semula. Untuk pencegahan mengenai masalah ini, dapat mengantisipasinya dengan menerapkan kedisiplinan terhadap anaknya, mendaftarkan keluarga dan harta bendanya kepada segala bentuk asuransi, meningkatan kewaspadaan masyarakat sekitar.
Dukungan sosial juga perlu diberikan ketika individu mengalami suatu masalah. Dukungan sosial dapat diberikan oleh siapapun yang membentuk komunitas itu. Misalnya : Orang tua hendaknya memberikan informasi terhadap anaknya. Bukan hanya orang tua saja tetapi juga bisa dilakukan oleh masyarakat sekitar. Teman sepantaran bisa memberikan dukungan sosial dalam bentuk nasehat mengenai hal-hal yang baik, rasa empati, dan saling membantu. Sekolah diharapkan mampu memberikan pendidikan yang bermutu.

4.Selain itu, masalah tersebut dikembalikan lagi pada komunitas yang ada. Dalam artian komunitas diharapkan introspeksi terhadap kesalahan-kesalahannya. Kesalahan-kesalahan dalam masalah ini bermula dari keluarga yang kurang peduli terhadap keamanan anaknya dan kurangnya tingkat kewaspadaan dari masyarakat setempat. Diharapkan dari kesalahan ini komunitas dapat mempelajari sehingga dapat mengembangkan pengetahuannya yang baru itu dalam komunitasnya. Perkembangan dapat dipengaruhi oleh faktor sosiologis dan psikologis.
Faktor sosiologis : kondisi lingkungan setempat. Agar komunitas ini membaik, masyarakat setempat tentunya juga harus sadar akan kewaspadaan akan keamanan terhadap komunitasnya.
Faktor psikologis : kondisi psikologis seseorang. Agar komunitas ini membaik, tidak hanya masyarakatnya saja yang instrospeksi akan tetapi bisa dimulai dari diri kita. Hal ini juga berhubungan terhadap kesehatan mental seseorang

5.Perlu adanya sebuah pelayanan sosial, agar dalam suatu komunitas itu dapat terbentuk kesejahteraan sosial yang dapat berupa :
a.Asuransi : perlu adanya keamanan jiwa, keluarga, dan harta benda dari yang kita miliki. Jadi ketika sewaktu-waktu terjadi musibah kita bisa mengantisipasinya.
b.RT/RW : desa siaga dapat diaktifkan. Agar selalu terjalin komunikasi antar warga
c.Pemerintah : penyuluhan akan bahaya petasan perlu ditingkatkan.

6.Selain masyarakat, sekolah berperan penting terhadap pembentukan komunitas. Anak-anak mempelajari komunitas pertama kali saat ia berada dalam sekolah.