Kamis, 27 Januari 2011

PENYESUAIAN PERAN SEKS DAN BAHAYA PERSONAL & SOSIAL PADA MASA DEWASA DINI

A. PENYESUAIAN PERAN SEKS MASA DEWASA DINI

Penyesuaian peran seks pada masa dewasa dini sejauh ini masih sulit. Sebelum masa remaja berakhir, sebenarnya anak laki-laki dan perempuan telah menyadari pembagian peran yang disepakati oleh masyarakat, tetapi belum tentu mereka mau menerima sepenuhnya. Banyak gadis remaja ingin berperan sebagai ibu dan isteri yang baik saat dewasa nanti, akan tetapi setelah dewasa mereka tidak mau menjadi isteri yang tunduk pada suami, mengerjakan tugas-tugas rumah tangga, dan hanya memiliki sedikit minat dan kegiatan luar (sesuai pengertian tradisional). Alasan mereka dijelaskan oleh Arnoto dan Bengston.

Peran “pengatur rumah tangga” (“homemaker”) kurang dihargai di Amerika Serikat dimana pekerjaan menjadi kunci untuk menentukan status suatu peran, dan prestasi dan kekayaan cenderung dijadikan patokan untuk menentukan peringkat sosial. Dalam masyarakat Amerika masa kini wanita cenderung menyerap nilai-nilai yang dianut para pria yang duduk bersama-sama mereka di bangku sekolah. Mereka menjadikan pria-pria ini acuan dalam membandingkan penghargaan dan imbalan untuk peran-peran tertentu. Wanita berpendidikan yang berperan sebagai ‘pengelola rumah tangga saja’ merasa dipojokkan dalam distribusi status sosial. Peran sebagai ‘pengelola rumah tangga-plus’ (seperti bekerja di luar rumah disamping mengerjakan tugas-tugas rumah tangga) mungkin akan membawa penghargaan sosial yang lebih besar.

Banyak wanita muda saat ini, mengharapkan perkawinan atas dasar persamaan hak. Dalam hal ini terjadi pergeseran dalam pola kehidupan orang dewasa. Lambat laun konsep tradisional, yang merupakan konsep peran seks dewasa, termodifikasi atau bahkan tergantikan konsepnya dengan konsep baru, yaitu konsep peran seks egalitarian. Konsep ini lebih menekankan persamaan antara pria dan wanita.

Konsep Peran Seks Dewasa :
1.Konsep Tradisional
^Tidak memperhitungkan minat dan kemampuan individual.
^Peran peran ini menekankan superioritas maskulin dan tidak tolerir pada setiap pekerjaan yang memberi kesan kewanitaan.
Pria
Di rumah: pencari nafkah,pembuat keputusan, penasehat dan tokoh yang mendisiplin anak-anak,serta menjadi model maskulinitas
bagi putera-puteranya.
Di luar rumah: pria menduduki posisi yang berwenang dan berprestise dalam dunia bisnis.
Wanita
Peran wanita disini berorientasi pada pengabdian terhadap orang lain. Wanita tidak diharapkan bekerja di luar rumah, jikalau pun wanita harus bekerja, biasanya dalam bidang pelayanan seperti perawat, dan guru.

2.Konsep Egalitarian
^Konsep egalitarian atau persamaan derajat menekankan individualitas dan persamaan derajat antara pria dan wanita.
Pria
Baik dirumah maupun di luar rumah, pria dapat bekerja sama dengan isterinya.
Dan ia pun tak merasa malu jika isterinya mempunyai pekerjaan yang lebih besar
penghasilannya dan berprestise darinya.
Wanita
Di rumah maupun di luar rumah, wanita mempunyai kesempatan untuk
mengaktualisasikan potensi serta pendidikannya.

Banyak wanita muda menyadari bahwa prestise (prestige : pengaruh,reputasi) yang rendah adalah dikaitkan dengan peran tradisional seorang isteri dan ibu, maka motivasi mereka untuk belajar peran ini rendah. Apabila mereka menjadi isteri dan ibu, mereka mengerti bahwa kecil kemungkinannya untuk membebaskan diri dari peran sebagai ibu untuk memainkan peran lain yang secara pribadi lebih memuaskan dan bermanfaat.

B. BAHAYA PERSONAL DAN SOSIAL PADA MASA DEWASA DINI

Berbagai bahaya yang bersifat personal dan sosial pada masa dewasa dini berasal dari kegagalan untuk menguasai beberapa tugas perkembangan yang penting pada usia tersebut.
Kegagalan dalam menguasai tugas-tugas perkembangan masa dewasa dini yang mengakibatkan kegagalan memenuhi harapan sosial dalam berbagai aspek perilaku mempengaruhi penyesuaian pribadi dan sosial seseorang.
Rintangan yang dapat menghambat penguasaan tugas perkembangan pada masa dewasa awal, diantaranya ialah:
1. Dasar yang Kurang Memadai
2. Hambatan Fisik
3. Latihan yang Tidak Runtut
4. Perlindungan yang Berlebihan
5. Pengaruh Kelompok Teman Sebaya yang Berkepanjangan
6. Aspirasi yang Tidak Realistik
Beberapa bahaya terhadap penyesuaian diri dan sosial yang sangat umum dan sering muncul selama tahun-tahun awal akil balik. Sementara semua orang dewasa tidak perlu mengalami semua bahaya ini, kebanyakan dari bahaya tersebut akan dialami pada suatu ketika oleh mayoritas orang dewasa muda.
Berbagai bahaya personal maupun sosial yang terdapat pada masa dewasa dini, yaitu:

1. Bahaya Fisik

Bahaya fisik yang terjadi pada masa dewasa dini juga tidak jauh berbeda dengan bahaya fisik pada masa kanak-kanak atau remaja.

Bahaya fisik tersebut diantaranya ialah:
a. Cacat fisik
b. Kesehatan badan
c. Penampilan yang kurang menarik

Akibat dari bahaya fisik ini adalah datangnya perasaan frustasi dan ketidak percayaan diri. Selain itu, bahaya fisik ini pun dapat mempersulit seseorang dalam menyesuaikan diri dengan kehidupan sosial.


2. Bahaya Keagamaan

Dua hambatan keagamaan yang terjadi pada masa dewasa dini yaitu:
a. Penyesuaian diri pada suatu agama baru sebagai pengganti agama keluarga di masa kanak-kanak
b. Tekanan dari sanak saudara suami atau isteri untuk memeluk agama mereka dalam perkawinan campuran.

Hambatan atau bahaya ini dapat mengganggu keadaan emosional individu pada masa dewasa awal.

3. Bahaya Sosial
Banyak orang pada masa dewasa awal mengalami hambatan yang sifatnya sosial. Tiga diantaranya adalah yang umum terjadi pada masa dewasa awal, yaitu:
a. Hambatan untuk bergabung dengan kelompok siosial tertentu yang cocok.
b. Rasa tidak puas dengan peran yang yang harus dimainkan dalam memenuhi harapan kelompok
c. Mobilitas sosial yang mengharuskan mereka untuk menyesuaikan dengan lingkungan baru.


4. Bahaya Peran Seks

Pada masa dewasa dini, seorang wanita cenderung untuk merasa lelah dan terpetangkap dengan apa yang sedang dihadapinya
sebagai seorang ibu rumah tangga. Dia harus mengurusi segalanya di rumah serta mengalami konflik mendahulukan karier suami.

Referensi
Hurlock, Elizabeth B. (1980). Development Psychology A Life-Span Approach. New York: McGraw-Hill.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar