Terjadi kebakaran di sebuah komplek perumahan yang bermula dari sebuah petasan milik seorang anak berusia 5 tahun. Anak tersebut merupakan anak dari penghuni salah satu rumah dikomplek tersebut. Kebakaran ini dikarenakan anak tersebut menyalakan petasan dikamarnya. Petasan yang dinyalakan secara tidak sengaja jatuh di atas tempat tidur. Karena takut melihat api yang semakin lama membesar, anak tersebut bersembunyi. Pada saat itu, penghuni rumah (orang tuanya) sedang bekerja dan ia sedang bersama neneknya. Neneknya yang selalu menungguinya berada di luar rumah sedang bercakap-cakap dengan tetangga.
Sementara itu, api dari kamar tersebut semakin lama semakin merembet dan mengeluarkan asap sehingga diketahui oleh para tetangga. Tetangga sekitar mencoba untuk memadamkan api dengan cara bergotong-royong menyiram dengan air yang berada disekitar rumah tersebut. Selain itu mereka juga mencoba untuk mencari anak penghuni rumah yang tadinya terlihat bermain yang ternyata ditemukan di dalam kamar mandi dalam keadaan ketakutan.
Akan tetapi karena mayoritas penghuni komplek perumahan tersebut kebanyakan ibu rumah tangga yang pada siang hari ditinggal kerja oleh suaminya, maka terlihat dari kerja keras mereka tidak membuahkan hasil. Hingga sampai mobil pemadam kebakaran dating pun api tak kunjung padam. Hal ini mengakibatkan tidak hanya sebagian barang dari rumah tersebut yang terbakar tetapi juga barang – barang rumah tetangga disekitarnya.
1.Masalah ini timbul karena kelalaian orang tua dalam mendidik anaknya. Anak berusia 5 tahun seharusnya sudah dapat mengerti apa-apa saja yang dapat membahayakan bagi dirinya. Pengertian-pengertian akan hal ini seharusnya sudah diberikan meskipun dalam bahasa yang sederhana. Selain itu kesalahan yang lain, pada usia tersebut merupakan usia dimana anak sedang aktif dalam dunia permainan tidak seharusnya dipantau dan dijaga oleh seorang nenek yang pengawasannya memiliki keterbatasan.
Oleh karena itu, komunitas tersebut (dalam hal ini keluarga) perlu adanya perubahan sosial, yaitu perubahan sosial yang ke arah positif. Perubahan sosial ini penting guna meningkatkan kesadaran akan komunitas. Dari segi positif, perubahan sosial itu penting agar hubungan yang terjalin dalam komunitas tetap harmonis dan komunitas itu dapat menjalankan interaksinya seperti semula. Bentuk konkritnya adalah perubahan sosial dapat dimulai dari menata individu yang berada dalam suatu komunitas tersebut dengan cara sadar akan adanya tanggung jawab yang harus diemban oleh tiap-tiap individu. Misalnya dalam komunitas ini:
Orang tua penting bagi dirinya untuk mendidik pada anaknya tentang apa-apa yang membahayakan bagi dirinya, memberikan pengawasan yang lebih pada anak usia tersebut, maka orang tua tidaklah melepas tanggung jawab yang sedemikian itu terhadap neneknya.
2.Ketika telah timbul masalah seperti ini, yang harus dilakukan ialah menciptakan dan mempertahankan perubahan sosial yang meliputi :
a.Partisipasi warga : dengan adanya masalah ini, timbullah rasa empati, peduli akan musibah orang lain, gotong-royong, dan sehingga kebersamaan ini merupakan awal untuk membangun sebuah komunitas yang sehat.
b.Networking : hubungan akan menjadi lebih erat jika kebersamaan ini tetap berangsur-angsur dilakukan secara rutin.
Terciptanya perubahan sosial ini dikarenakan adanya kebersamaan. Kebersamaan ini merupakan awal mula terbangunnya gotong-royong dalam komunitas tersebut dan untuk mempertahankannya diperlukan adanya networking. Networking ini dilakukan secara rutin misalnya dalam bentuk antar suami-istri saling menjaga keamanan anak mereka, saling mengingatkan mana yang baik dan mana yang buruk, saling bekerja sama antar sesama orang tua, saling mengawasi antar anak tetangga, saling memiliki rasa tanggung jawab yang tinggi terhadap perkembangan komunitas dalam bentuk kesadaran yang dibangun guna memberi pengertian akan pentingnya kerjasama, masyarakat setempat dapat mengelola layanan desa siaga dengan sebaik-baiknya.
3.Saat ada masalah seperti ini, agar komunitas tersebut tetap survive(bertahan) dimulai dari individu yang sehat. Individu yang sehat adalah individu yang dapat mengatasi stres terhadap masalah yang sedang dialaminya. Individu disini digambarkan orang tua dari anak tersebut. Pada masalah di atas, individu mengalami keadaan yang sangat menekan dirinya karena sebagian dari harta benda mereka habis dilalap api karena sesuatu hal yang konyol. Selain itu tetangganya yang bernasib sama juga mengalami hal yang serupa. Untuk mengatasi masalah ini, setiap individu mempunyai cara yang berbeda dalam mengatasi masalah. Misalnya, ketika rumahnya dilalap api, orang tua dari anak tersebut tidak begitu panik ketimbang tetangganya yang marah-marah dan menyalahkan orang lain akan musibah itu. Pada dasarnya individu itu dapat mengatasi masalahnya dengan baik jika :
a.Ia mengetahui kondisinya saat ini yang sedang dalam masalah. Dia harus bisa memprediksi apa yang seharusnya ia lakukan sehingga ia masih dapat melaksanakan tugas kehidupan sehari-hari.
b.Ia harus sehat secara mental agar dia dapat memikirkan masalahnya
c.Setelah tahu mengenai potensi dirinya, diharapkan ia dapat bertanggung jawab terhadap dirinya,dan orang lain termasuk keluarganya.
d.Mampu mengubah persepsi yang menganggap masalah ini sebagai rintangan yang tidak untuk diratapi melainkan dihadapi. Dan diharapkan kita termotivasi untuk menyelesaikan masalah ini.
Sehingga, dari pemaparan diatas yang harus dilakukan oleh individu tersebut agar stress terhadap masalahnya berkurang : menenangkan diri dengan cara memberikan pengertian terhadap dirinya mengenai masalah yang sedang dialaminya. Tidak selamanya orang itu akan hidup senang, kadang kala juga diberi cobaan oleh-Nya. Sehingga kita harus tetap tabah menjalani semua ini. Ketika kita telah mengerti dan merasakan ketenangan itu, maka kita diharapkan mampu untuk bangkit dalam keadaan seperti semula. Untuk pencegahan mengenai masalah ini, dapat mengantisipasinya dengan menerapkan kedisiplinan terhadap anaknya, mendaftarkan keluarga dan harta bendanya kepada segala bentuk asuransi, meningkatan kewaspadaan masyarakat sekitar.
Dukungan sosial juga perlu diberikan ketika individu mengalami suatu masalah. Dukungan sosial dapat diberikan oleh siapapun yang membentuk komunitas itu. Misalnya : Orang tua hendaknya memberikan informasi terhadap anaknya. Bukan hanya orang tua saja tetapi juga bisa dilakukan oleh masyarakat sekitar. Teman sepantaran bisa memberikan dukungan sosial dalam bentuk nasehat mengenai hal-hal yang baik, rasa empati, dan saling membantu. Sekolah diharapkan mampu memberikan pendidikan yang bermutu.
4.Selain itu, masalah tersebut dikembalikan lagi pada komunitas yang ada. Dalam artian komunitas diharapkan introspeksi terhadap kesalahan-kesalahannya. Kesalahan-kesalahan dalam masalah ini bermula dari keluarga yang kurang peduli terhadap keamanan anaknya dan kurangnya tingkat kewaspadaan dari masyarakat setempat. Diharapkan dari kesalahan ini komunitas dapat mempelajari sehingga dapat mengembangkan pengetahuannya yang baru itu dalam komunitasnya. Perkembangan dapat dipengaruhi oleh faktor sosiologis dan psikologis.
Faktor sosiologis : kondisi lingkungan setempat. Agar komunitas ini membaik, masyarakat setempat tentunya juga harus sadar akan kewaspadaan akan keamanan terhadap komunitasnya.
Faktor psikologis : kondisi psikologis seseorang. Agar komunitas ini membaik, tidak hanya masyarakatnya saja yang instrospeksi akan tetapi bisa dimulai dari diri kita. Hal ini juga berhubungan terhadap kesehatan mental seseorang
5.Perlu adanya sebuah pelayanan sosial, agar dalam suatu komunitas itu dapat terbentuk kesejahteraan sosial yang dapat berupa :
a.Asuransi : perlu adanya keamanan jiwa, keluarga, dan harta benda dari yang kita miliki. Jadi ketika sewaktu-waktu terjadi musibah kita bisa mengantisipasinya.
b.RT/RW : desa siaga dapat diaktifkan. Agar selalu terjalin komunikasi antar warga
c.Pemerintah : penyuluhan akan bahaya petasan perlu ditingkatkan.
6.Selain masyarakat, sekolah berperan penting terhadap pembentukan komunitas. Anak-anak mempelajari komunitas pertama kali saat ia berada dalam sekolah.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar